Jika Jubir KPK Galau....
JAKARTA--MICOM: Sejak penetapan Angelina Sondakh sebagai tersangka kasus Wisma Atlet pada Jumat (3/2), status
BlackBerry messenger (BBM) juru bicara KPK Johan Budi SP memperlihatkan kegalauan.
Terakhir, status BBM Johan yang di-
posting Senin (6/2) malam berbunyi 'Awal yang Ruwet Pangkal Kehancuran'. Foto profil BBM pun dibiarkan berwarna hitam pekat dan gelap.
Sang juru bicara komisi antikorupsi ini rupanya sedang galau. Entah kenapa. Tapi yang jelas, sejak pimpinan KPK yang dinahkodai Abraham Samad menjadi atasan Johan, jubir ini selalu pusing menghadapi pertanyaan wartawan.
Johan berkali-kali mengaku pusing menghadapi pertanyaan wartawan terkait janji Ketua KPK Abraham Samad terkait penentuan tersangka baru kasus cek pelawat, Wisma Atlet, dan kasus lainnya. Misalnya saja, Johan kerepotan saat menjelaskan maksud kalimat 'menghitung hari' penetapan tersangka kasus Cek Pelawat dan Wisma Atlet oleh Abraham.
"Teman-teman kan harus tahu, menghitung hari itu kan bisa besok bisa juga setahun," ujar Johan
ngeles pada wartawan saat menagih janji sang Ketua KPK.
Pada akhirnya, janji Abraham direalisasikan dengan penetapan Miranda Goeltom sebagai tersangka kasus cek pelawat dan Angelina Sondakh sebagai tersangka kasus Wisma Atlet.
Status BBM Johan 'Awal yang Ruwet Pangkal Kehancuran' menyiratkan persoalan mendalam di tubuh pimpinan KPK jilid III. Sebab, dalam beberapa kesempatan pengumuman tersangka, Abraham Samad selah berjalan sendiri, hanya ditemani Johan dan Kabag Humas Priharsa.
Ke mana pimpinan yang lain? Isu perpecahan pun mengiringi pengumuman tersangka kasus Wisma Atlet.
Kegelisahan Johan sebetulnya perlu direspons pimpinan. Sebab, Johan pernah mendampingi pimpinan tiga periode. Jadi, Johan sebetulnya paham betul kerja pimpinan KPK.
Menurut penuturan Johan, pimpinan periode sebelumnya, jika hendak mengumumkan tersangka, selalu dihadiri setidaknya beberapa pimpinan atau jumlah lengkap. Tapi, dua kali pengumuman tersangkan Abraham seolah sendirian.
Bahkan, berdasarkan informasi yang dikumpulkan
Media Indonesia di KPK, saat mengumumkan tersangka Angelina Sondakh, Humas KPK sama sekali tidak tahu jika ada konferensi pers. Bahkan, beberapa jam sebelum konferensi pers, Humas KPK masih kebingungan.
Rupanya, janji untuk umumkan tersangka baru Wisma Atlet diberitahukan sendiri oleh Abraham kepada wartawan sehari sebelumnya. Humas tidak diberitahu.
Kondisi ini, memang mengkhawatirkan Johan. Bahkan, berdasarkan pengakuan Johan, saat penetapan Anggie sebagai tersangka, dirinya bersama Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto masih di Rusia.
Johan pun kaget, ternyata tersangka baru Wisma Atlet diumumkan Abraham.
Abraham seharusnya tidak mengumumkan Angelina sebagai tersangka sendiri bersama Priharsa. Sebab, saat itu pimpinan KPK lain ternyata ada di gedung KPK.
Setidaknya, simbol kolektif kolegial itu hadir dalam bentuk kebersamaan mengumumkan tersangka.
"Saya heran, baru kali ini ada pengumuman tersangka yang dilakukan Ketua KPK sendirian. Mana pimpinan lain?" ujar seorang wartawan KPK saat Abraham umumkan tersangka Angelina Sondakh.
Johan pantas risau. Sebab, dirinya tentu tahu pimpinan yang tidak solid merupakan awal perpecahan KPK. Inilah 'Awal yang Ruwet Pangkal Kehancuran'. Pimpinan KPK harus mendengarkan curhat sang jubir ini. (*/OL-10)