KENDARI--MICOM: Ribuan warga yang menolak kehadiran perusahaan pertambangan nikel PT Harita di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, mengamuk. Mereka membakar satu sepeda motor, merusak kantor, dan mobil dinas bupati, Rabu (8/2).
Masa mengamuk setelah terjadi bentrok dengan polisi dan Satuan polisi Pamong Praja (Satpol PP) Konawe Utara, lantaran massa yang memaksa masuk ke kantor bupati dihadang petugas. Namun, karena jumlah pengunjuk rasa membeludak, akhirnya mereka berhasil masuk ke kantor bupati.
Di dalam kantor bupati mereka langsung mengobrak-abrik sejumlah fasilitas dan peralatan. Jumlah petugas yang sedikit tidak mampu mengatasi amuk masa yang menuntut Bupati Aswad Sulaiman segera menertibkan pertambangan dan mecabut izin usaha pertambangan PT Harita.
Massa semakin beringas ketika di tengah aksi terjadi insiden pemukulan dan ancaman penikaman terhadap koordinator pengunjuk rasa yang diduga dilakukan oleh preman. Aksi kejar-kejaran antara pengunjuk rasa dan preman pun terjadi di kantor Humas Konawe Utara dan kantor administrasi. Namun, karena preman yang dikejar tidak ditemukan, massa akhirnya merusak meja serta lemari di kantor itu.
Untuk melampiaskan kekesalan, pengunjuk rasa juga membakar satu sepeda motor yang terparkir di halaman kantor itu. Begitu juga mobil dinas bupati bernomor polisi DT 1 M tidak luput dari aksi massa, mereka berorasi di atas mobil itu, kemudian merusaknya.
Dalam orasinya massa selain menuntut pencabutan izin tambang PT Harita di atas lahan PT Aneka Tambang juga mendesak Bupati Konawe Utara memperbaiki sektor pertambangan, administrasi pemerintahan, dan pengelolaan pendapatan asli daerah (PAD). Mereka menilai PAD daerah itu yang pada 2011 hanya Rp800 juta tidak seimbang dengan banyaknya jumlah perusahan tambang di Konawe Utara.
Wakil Bupati Ruksamin yang berusaha menemui pengunjuk rasa ditolak. Massa hanya mau bertemu dengan Bupati Aswad Sulaiman. Usai berunjuk rasa di kantor bupati, massa bergerak menuju rumah jabatan bupati, namun mereka tetap tidak bisa bertemu dengan Aswad. Pengunjuk rasa akhirnya membubarkan diri dan mengancam akan kembali beraksi dengan massa yang lebih banyak. (HM/OL-01)