JAKARTA--MICOM: Pertumbuhan industri manufaktur non migas pada tahun 2011 mencapai 6,83%. Jumlah ini mengalami peningkatan dibanding pertumbuhan industri tahun sebelumnya yang sebesar 5,12%.
Pada tahun 2012, Kementerian Perindustrian menargetkan pertumbuhan industri manufaktur akan mengalami pertumbuhan di atas 7%.
"Kita mengharapkan 2012 bisa di atas 7 persen khususnya di kelompok industri menegah dan UKM, " ujar Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat ketika ditemui di arena Jakarta Food Security Summit, JCC, Jakarta, Rabu (8/2).
Dituturkannya, selama tahun 2011 sektor industri manufaktur tanpa migas rata-rata mengalami pertumbuhan positif. Industri logam dasar besi dan baja mengalami pertumbuhan paling pesat, mencapai 13,06%. Jauh lebih banyak dari target pertumbuhan yang ditetapkan Kemenperin, yakni 3,4%. Sementara jika dibandingkan tahun 2010, pertumbuhannya hanya 2,38%.
Industri makanan dan minuman serta tekstil juga tumbuh melebih target, mencapai 9,19%. Industri tekstil, barang kulit dan alas kaki tumbuh 7,52%. Pada tahun 2010 industri ini hanya tumbuh 1,77%.
Industri kayu dan hasil hutan tumbuh 0,35%. Meski pertumbuhannya relatif kecil, namun lebih baik dibanding tahun sebelumnya yang mengalami penurunan 3,47%. Industri semen dan barang galian bukan logam tumbuh 7,19%, di tahun 2010 hanya tumbuh 2,18%.
Industri yang pertumbuhannya lebih rendah dibanding tahun sebelumnya adalah industri kertas dan barang cetakan yang hanya tumbuh 1,5%. Pada tahun 2010 industri ini tumbuh 1,67%.
Industri pupuk, kimia dan barang dari karet di tahun 2011 tumbuh 3,95%. Namun, dibanding 2010 pertumbuhannya lebih rendah, sebesar 4,7%.
Industri yang penurunan pertumbuhannya paling besar adalah industi alat angkut, mesin dan peralatan yang hanya tumbuh 7% pada tahun 2011. Pada tahun 2010, pertumbuhannya mencapai 10,38%.
"Pertumbuhan ini tidak ada yang negatif selama 2011, 6,8% saya kira angka rata-rata yang bisa dicapai dari perindustrian khususnya manufaktur," papar Hidayat.
Ke depan, untuk semakin meningkatkan pertumbuhan industri manufaktur, Hidayat menegaskan perlunya linkage atau pola jaringan antara industri besar dan industri penunjang. "Kalau industri besarnya sudah berjalan itu ada linkage dengan industri penunjangnya, itu harus terkait," tuturnya.
Dicontohkannya, dalam industri otomotif, antara vendor dan sub kontraktor harus berkaitan. Jika sistem linkage ini diterapkan, tambah Hidayat, pertumbuhan industri besar dan penunjangnya akan tumbuh beriringan.
"Yang saya tidak tolerir kalo investasinya besar, dia masukkan lagi investasi dengan sub kontraktor yang sama tanpa melibatkan local company. Jadi mereka harus join ke local company. Itu permintaan saya," tegasnya. (AI/OL-9)