JAKARTA--MICOM: Adanya peristiwa penembakan di Aceh serta peningkatan pengawalan terhadap Gubernur Aceh Irwandi meunjukkan bahwa tingkat ketegangan menjelang Pemilu Kada Aceh meningkat.
Dalam tiga bulan terakhir, tindak kekerasan yang terjadi belum kunjung ditindaklanjuti. Pengiriman Densus 88 juga dinilai belum efektif sebab berbagaii peristiwa yang disinyalir terkait dengan pemilu kada tetap terjadi.
"Ketidakmampuan polisi dalam nelakukan pencegahan dan penyelesaian atas kasus-kasus kekerasan bersenjata, hanya menyebabkan pola-pola kekerasan terus berlanjut dan menempatkan posisi warga sipil pada situasi terancam," kata Peneliti Imparsial Otto Syamsudin Ishak di Jakarta, Rabu (8/2).
Otto mengatakan, telah terjadi polarisasi diametris dalam kondisi Aceh saat ini. Kondisi tersebut tidak terlepas dari unsur politik yang sedang berlangsung di Aceh.
"Kesimpangsiuran pemilu kada dimulai sejak Partai Aceh mengumumkan Zaini dan Muzakir sebagai calonnya. Namun beberapa kelompok lain melobi agar keputusan partai Aceh tidak final keputusannya. Alasan utamanya, mereka akan kesulitan dengan orang baru," ujarnya.
Kendati demikian, Partai Aceh tetap mengukuhkan Zaini dan Muzakir. Hal tersebut menyebabkan dua kelompok pendukung partai Aceh pecah. "Mesin-mesin besar ke Partai Aceh dan Zaini. Tapi mesin-mesin tempel mendukung Irwandi (petahana Gubernur Aceh)," kata Otto.
Yang dimaksud dengan mesin besar sendiri adalah organisasi besar, serta partai-partai di Pemerintah Pusat. Sementara mesin-mesin kecil merupakan kelompok milisi.
"Kalau kejadian penembakan dan tindak kekerasan tidak mampu diungkapkan, berarti ada pesan kalau kekuatan yang lebih besar dari kepolisian yang bekerja dibalik tindak kekerasan itu. Meskipun pelaku menggunakan AK-47 untuk meniru pola penembakan jaman dulu," ujarnya.
Kelompok milisi di Aceh sendiri saat ini bergerak sendiri tanpa ada dukungan dari TNI atau Polri, bahkan dari kelompok Swedia maupun Malaysia.
Melalui Otto, Imparsial mendesak polisi menyelesaikan kasus kekerasan oleh orang atau kelompok yang tidak dikenal di Aceh untuk menguraikan ketegangan yang ada. (OX/OL-2)