Industri masih Gagap Transformasi

Penulis: Ghani Nurcahyadi Pada: Senin, 18 Sep 2017, 01:16 WIB Ekonomi
Industri masih Gagap Transformasi

ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

PENETRASI teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di semua lini kehidupan mendatangkan gangguan masif pada industri. Kecepatan penetrasi tersebut membuat banyak industri terlambat menghadapi kemajuan digital dan akhirnya ditinggalkan pelanggan. Studi bertajuk The Microsoft Asia Digital Transformation, Enabling the Intelligent Enterprise, menyebutkan 90% pemimpin bisnis di Indonesia menyatakan perlu melakukan transformasi digital untuk mendorong pertumbuhan perusahaan. Sayangnya, hanya 27% yang telah memiliki strategi transformasi digital menyeluruh.

One Commercial Partner & Small, Medium, Corporate Director Microsoft Indonesia Mulia Dewi Karnadi menambahkan dari studi itu juga menunjukkan 52% pemimpin bisnis masih merencanakan transformasi dan 22% belum memiliki strategi apa pun menghadapi era digitalisasi. "Disrupsi digital harus disikapi sebagai kesempatan untuk mentransformasi cara bisnis sehingga pengelolaan lebih baik dan mengubah cara kita berinteraksi dengan pelanggan. Disrupsi yang kita alami saat ini dimulai dengan kemunculan teknologi komputasi sosial, mobile, dan awan (cloud) yang mengarah ke model bisnis dan ekonomi baru," kata Dewi di Jakarta, Selasa (12/9).

Presiden Direktur Metrodata Electronics Susanto Djaja melanjutkan disrupsi digital menghadirkan peluang untuk membuat proses bisnis yang berjalan konvensional menjadi lebih efisien dari segi waktu dan biaya. Proses bisnis pun menjadi lebih cepat, transparan, dan akurat.
"Disrupsi harus dilihat bukan sebagai momok bagi organisasi, tapi bisa dijadikan sebagai salah satu jalan menuju perubahan untuk berinovasi. Ketika dunia teknologi berubah, kami tidak tinggal diam. Banyak hal yang kami lakukan agar tidak tertinggal dan menjadi sejalan dengan tren TIK," ujar Susanto.

Metrodata melalui anak perusahaannya, Soltius Indonesia, menjalin kerja sama dengan Data System International (DSI) menyediakan aplikasi telepon selular yang terhubung dengan ERP Solutions. Melalui solusi tersebut, perusahaan bisa lebih efisien dalam distribusi produk ke konsumen.

Tekstil
Arus digitalisasi di industri tekstil dan produk tekstil saat ini juga tak dapat dielakkan seperti yang terjadi di sektor lain. "Digitalisasi yang merambah di semua sektor industri, termasuk tekstil dan produk tekstil, memberikan suatu kemudahan bagi pengusaha untuk mendapatkan barang yang diinginkan," tutur CEO and Cofounder 88Spares.com Hartmut Molzhan di Nusa Dua, Bali, Sabtu (16/9). Hartmut menyampaikan hal itu saat menjadi salah satu pembicara konferensi International Textile Manufacturers Federation (ITMF) 2017 yang dihadiri lebih 200 peserta dari lebih 20 negara. Dampak digitalisasi terhadap industri, termasuk tekstil dan produk tekstil, yaitu munculnya produk yang beragam, inovasi baru, dan model bisnis berubah.

Dia mencontohkan Amazon.com yang menjual berbagai produk kini telah tumbuh sebagai perusahaan digital besar di dunia. Untuk bidang tekstil dan produk tekstil, 88spares.com dengan platform business to business (B to B) ingin mendorong digitalisasi lebih cepat masuk ke industri tekstil nasional agar pelaku usaha Indonesia menjadi kompetitif di masa depan. "Perusahaan ingin mempertemukan pabrik, vendor, dan industri agar bisa berbisnis secara efisien, cepat, dan murah," katanya. Perdagangan suku cadang mesin industri tekstil dan produk tekstil memang masih didominasi pedagang offline. Akibat banyak melibatkan pihak ketiga dalam proses transaksi membuat harga beli menjadi lebih mahal dibanding melalui proses digitalisasi. (Ant/S-4)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More