Budi Daya Udang yang Ramah Lingkungan

Penulis: Fario Untung Pada: Sabtu, 23 Sep 2017, 10:44 WIB Jejak Hijau
Budi Daya Udang yang Ramah Lingkungan

Pembudidayaan udang windu di Balai Pembudidayaan Perikanan Air Payau Jepara------MI/Akhmad Safuan

SAAT udang-udang windu di tambaknya mencapai panjang sekitar 13 sentimeter, Rusli Nurdin bersiap panen. Di lahan seluas 100 hektare di Pulau Tias, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, itu ia memiliki empat kolam tambak.

Hasil budi daya itu ia ekspor ke Jepang, Taiwan, Belanda, hingga Amerika Serikat. Memiliki pembeli di negara maju yang ketat soal mutu termasuk mutu lingkungan, Rusli pun berusaha mengikuti setiap aturan yang ada.

Sebab itu pula ia mengikuti sertifikasi Aquaculture Stewardship Council yang menjadi syarat ekspor ke negara-negara tersebut. Sertifikasi ini terkenal dengan aspek lingkungannya.

"Karena sudah sejak dua tahun lalu, seluruh udang saya telah mendapat sertifikasi ASC (Aquaculture Stewardship Council) sehingga negara-negara tersebut mau impor," tutur Rusli ketika dijumpai di Jakarta, Senin (18/9).

Rusli merupakan petani mitra perusahaan eksportir udang, yakni PT Mustika Minanusa Aurora (MMA). Untuk mendapatkan sertifikasi itu. Untuk mendapatkan sertifikasi itu, Rusli mendapat pendampingan dari WWF Indonesia.

Beberapa perubahan drastis yang ia lakukan ialah tidak menggunakan pestisida untuk mengenyahkan hama dari tambak-tambak dengan komoditas jenis black tiger shrimp itu.

"Dalam melakukan budi daya, saya sudah tidak lagi menggunakan pestisida atau jenis obat-obatan lain untuk mempercepat pertumbuhan udang karena hasilnya sangat berbeda dengan cara sekarang," sambungnya.

Tidak berhenti di situ, Rusli pun harus ikut memperbaiki dan menjaga kualitas lingkungan sekitar tambak. Maka jika dulu ia bisa menebang mangrove untuk memperluas tambak, kini ia harus ikut menanam lagi. Eloknya, semua dilakukan Rusli tanpa keterpaksaan. Sebab ia kini mengerti manfaat besar menjaga kelestarian lingkungan.

"Karena dengan menanam mangrove di sekitar tambak, nanti daun-daun mangrove yang jauh ke air akan menciptakan plankton secara alami yang nantinya akan dimakan udang-udang ditambak," jelas Rusli.

Perbaikan lingkungan pun menimbulkan efek domino yang baik untuk berbagai operasional tambak. Dengan air laut yang kini telah kaya akan plankton, Rusli tidak pelu lagi terus memompa air ke tambak. Ia cukup memanfaatkan air pasang dan air tersebut telah membawa cukup makanan bagi tambaknya.

Tahapan
Kisah Rusli tentunya bisa menjadi inspirasi bagi pengusaha tambak lainnya. Terlebih menurut WWF Indonesia, sertifikasi ASC kini kian menjadi syarat ekspor seiring dengan semakin tingginya kesadaran konsumen dunia akan produk yang ramah lingkungan. Permintaan produk dengan sertifikasi ini telah mencapai 63% dari total produk yang dipasarkan di dunia.

"Kesadaran konsumen untuk mengonsumsi produk ramah lingkungan memang semakin bertumbuh sehingga pihak produsen juga semakin didorong untuk menghasilkan produksi besertifikasi ekolabel tersebut," jelas Budi Santosa selaku Marine Conservation and Sustainable Fisheries Senior Officer WWF Indonesia.

Persyaratan ekolabel bagi perusahaan ekspor akuakultur memiliki tahapan yang cukup kompleks dan panjang. Beberapa persyaratan yang tentunya harus dipenuhi produsen di antaranya aspek legalitas, perbaikan lingkungan, pekerja, sosial, keamanan serta pakan dari budi daya itu sendiri. Untuk memenuhi itu, tentunya bukan hal yang mudah.

"Butuh waktu empat tahun untuk PT MMA bisa mendapatkan sertifikasi ini karena memang persyaratannya tidak mudah. Namun, setelah mendapatkan sertifikasi tersebut, banyak negara importir yang langsung memesan produknya," jelas Budi.

Dengan penerapan sertifikasi ASC kepada produsen dan nelayan yang menjadi mitra kerjanya, WWF Indonesia optimistis perbaikan lingkungan yang lebih menyeluruh akan tercapai.

Tidak hanya itu, sertifikasi ini pun dapat menjadi jalan penyadartahuan bagi konsumen dan memenuhi kebutuhan konsumen yang memang sudah sadar lingkungan.

"Selain itu, hal ini bertujuan menyelaraskan kesadaran masyarakat yang sudah semakin mau mengonsumsi produk dengan label ramah lingkungan," ujar Budi.

PT MMA sendiri juga berkomitmen meningkatkan produk udang windu dengan sertifikasi ASC. Bahkan ke depannya, PT MMA akan memperluas wilayah tambak untuk dilabelkan sertifikasi ASC.

"Saat ini memang kami sedang melakukan survei ke wilayah lain untuk kita ajak kerja sama dan menjadi mitra perusahaan. Namun, tentunya harus mau juga mengikuti program sertifikasi serupa," jelas Manajer PT MMA Armansyah.

Pemberian insentif
Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), juga telah mengakui kesadaran masyarakat dalam hal mengonsumsi produk ramah lingkungan memang mengalami peningkatan. Karena itu, pemerintah pun terus berupaya memberikan yang terbaik.

Dalam hal tersebut, Kepala Divisi Standardisasi Produk KLHK Nurmayanti mengatakan pihaknya sedang merancang aturan pemberian insentif bagi produsen yang membuat produk ramah lingkungan.

"Saat ini sudah sedang diproses peraturannya dan tinggal menunggu keputusan presiden saja karena draf aturannya sudah masuk di menteri sekretaris negara," tutur Nurmayanti.

Lebih lanjut, Nurmayanti menjelaskan aturan ini akan berbentuk peraturan pemerintah mengenai instrumen ekonomi lingkungan hidup. Aturan ini merupakan turunan dari UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lngkungan Hidup.

"Nantinya insentif yang akan diberikan kepada para produsen ialah kemudahan mendapatkan pendanaan dari sektor perbankan dan produk tersebut juga bisa digunakan di instansi pemerintah," pungkasnya.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More