Rudat, Syiar Agama dalam Gerak Tari

Penulis: Ardi Teristi Hardi Pada: Minggu, 05 Nov 2017, 09:20 WIB Khazanah
Rudat, Syiar Agama dalam Gerak Tari

Grafis/Ebet

GSUARA tabuhan rebana menyambut kami ketika memasuki Desa Pemenang Barat, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, desa wisata yang menjadi tempat KKN UGM pada Juli yang lalu. Dua belas orang tampak berbaris berjajar.

Mereka kemudian bergerak mengikuti suara rebana. Gerakan mereka terlihat seperti kolaborasi antara orang berbaris, pencak silat, dan tarian. Itulah kesenian Rudat yang telah hidup turun-temurun dalam budaya masyarakat Lombok.

Zakaria, 43, pemimpin kelompok Rudat Setya Budi di bawah binaan Sanggar Seni Pancapesona, menjelaskan Rudat biasa ditampilkan untuk menyambut tamu penting, acara pernikahan, hingga acara khitanan. “Selain sebagai hiburan, Rudat sebagai ajang silaturahim dan media dakwah,” kata dia dalam acara penyambutan rombongan Universitas Gadjah Mada tersebut.

Rudat dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu pembuka dengan lagu selamat datang, bagian inti, dan bagian penutup. Setiap pergantian bagian diisi dengan gerakan baris-berbaris.

Baris-berbaris, lanjut dia, memiliki filosofi bahwa setiap akan melakukan sesuatu, kita harus melakukan persiapan terlebih dulu. Sementara itu, tiga bagian dalam Rudat ialah alam yang akan dilalui manusia, yaitu alam rahim, alam dunia, dan alam akhirat.

Menurut dia, penari Rudat idealnya ada 12 penari dengan seorang komandan. Dengan jumlah 12 penari, mereka bisa fleksibel membentuk formasi tarian, yang biasanya dibagi dalam dua, tiga, atau empat formasi.

Setelah itu, baru masuk pada inti permainan. Selama pertunjukan, mereka banyak menyanyikan pujian-pujian untuk Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW dalam bentuk selawat. Selain itu, ada pula syair-syair nasihat, sesuai dengan permintaan, misalnya membangun daerah, menjauhi narkoba, dan berbakti kepada orangtua.

Zakaria menjelaskan, di Lombok Utara, ada 20 kelompok Rudat. Kelompok Rudat sudah turun-temurun sejak zaman penjajahan. “Kakek saya juga penari Rudat, sekitar 1920 sudah ada (menarikan Rudat),” kata dia.

Akulturasi budaya
Rudat merupakan akulturasi dari berbagai budaya, dari Turki, Belanda, dan Lombok. Budaya Turki bisa terlihat dari topi dan lirik selawat. Sementara itu, budaya Belanda terlihat dari pakaiannya, sedangkan Lombok terlihat dari gerak pencak.

Menurut dia, ada sisi-sisi perlawanan dalam kesenian Rudat. Rudat awal perkembangannya waktu penjajahan Belanda. Ketika itu, Belanda tidak memberi kebebasan menyebarkan budaya dan berkesenian.

Masyarakat zaman dulu kemudian mencari cara agar kesenian Rudat bisa disetujui pihak Belanda dan disebarkan ke masyarakat. Mereka pun menarik simpati Belanda dengan meniru pakaian ala mereka, dengan harapan supaya diberi kebebasan untuk menyiarkan agama dan berkesenian. Padahal, hakikat Rudat ialah menolak penjajahan.

Berdasarkan pengetahuannya, Rudat juga berkembang di beberapa daerah, seperti Cirebon, Banten, dan Bali.

Tantangan
Keberadaan Rudat sempat mengalami pasang-surut. “Sebelum 2000-an, saya kesulitan mencari penari Rudat,” sambung Zakaria.

Pada saat itu, ia mengaku kesusahan mengajak anak-anak muda berkesenian Rudat. Mereka telah terpengaruh oleh budaya Barat. Mereka beranggapan kesenian tradisional Rudat sudah kuno dan tidak patut lagi dibanggakan.

Setelah 2000, ia perlahan-lahan berhasil mengubah pandangan itu. “Saya mulai dari saya dan adik-adik saya, kemudian meluas ke lingkungan sekitar. Setelah sering pentas, kini semakin banyak yang tertarik,” tukasnya. Kini, anak-anak pun sudah banyak yang belajar seni Rudat. Mereka sudah belajar sejak kelas 1 SD. (M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More