Pintar Pilah Sampah

Penulis: wulan@mediaindonesia.com Pada: Sabtu, 09 Des 2017, 23:49 WIB MI Muda
Pintar Pilah Sampah

MI/SITI RETNO WULANDARI

EMPAT tempat sampah plastik yang tertutup rapat diletakkan berjajar di hadapan para siswa SMA di Jabodetabek. Dengan mengenakan sarung tangan plastik dan masker mulut, mereka pun sudah tahu tugasnya, memilah sampah organik dan anorganik. Dengan penuh semangat, mereka mengambil tempat-tempat sampah itu dan membukanya. Mereka memilahnya berdasarkan kategori organik, B3, kertas, anorganik bernilai, dan residu. Ada yang kemudian memasang muka seperti ingin muntah, bergidik, tetapi ada juga yang tertawa. Ternyata sampah yang harus mereka pilah sudah tercampur, baik organik maupun anorganik, sehingga mengeluarkan bau tidak sedap. Bau dan jijik, dua kata itu terlontar saat ditanya kesannya ketika harus bergelut dengan sampah.

Kendati begitu, kegiatan itu menjadi salah satu aktivitas terpenting Plastic Reborn yang dihelat Akademi Bijak Sampah di TPA Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (14/11). Pesertanya, 41 siswa dari 15 SMA.

Kaget lalu belajar
Gagasan untuk mengajak generasi milenial ini diinisiasi Ancora Foundation yang kemudian menggandeng Waste 4 Change untuk penerapannya. “Kami hadirkan O! moment dan shock moment, ketika mereka melihat gunungan sampah dan harus memilahnya yang kini sudah tercampur. Pembelajarannya, kalau kita tidak lakukan pemilahan sejak dari rumah, banyak sampah yang tadinya masih berguna jadi tidak bisa diolah karena rusak, pun butuh waktu lama memilahnya,” ujar Public Affairs and Community Manager Coca Cola Indonesia, Andrew Hallatu.

Daur ulang plastik
Teknik pemilahan sampah, kata Andrew, rupanya memang belum melekat pada keseharian masyarakat, juga murid SMA. Beberapa dari mereka yang baru mengetahui pentingnya pemilihan, ingin menerapkan pemilahan pada lingkungan keluarga terlebih dahulu. Jika sampah organik, diolah dapat menghasilkan pupuk kompos, lalu bagaimana dengan sampah anorganik bernilai seperti plastik? Mereka pun kemudian diajak mengunjungi markas Waste 4 Change yang tak jauh dari lokasi TPA Bantar Gebang. Mereka antusias melihat pekerja yang sedang memecah plastik dari kemasan minuman atau makanan, hingga melihat kerja mesin pencacah yang menghasilkan biji plastik.

Mereka pun banyak bertanya tentang penggunaan biji plastik, hingga cara kerja mesin pencacah. Paling istimewa, kaus yang dipakai tim yayasan, salah satu bahannya berasal dari lima botol kemasan minuman ringan dalam plastik. “Edukasi semacam ini menjadi titik mula untuk mengubah pandangan dan pola pikir masyarakat akan sampah, khususnya generasi muda,” kata pendiri Greeneration Indonesia dan Waste 4 Change Mohamad Bijaksana Junerosano.

Bukan sekadar sisa
Selama ini sampah hanya dianggap barang sisa, sehingga yang dilakukan hanya sebatas mengumpulkan, diangkut, dan dibuang. Padahal, sampah bisa menghasilkan sesuatu, asalkan rajin dan pandai untuk memilah. “Semua yang kita konsumsi, berasal dari alam. Padahal, sampah itu ada yang bisa kembali diolah dan menjadi bahan baku barang tertentu, diputar dan dipakai terus-menerus,” ujar Sano sembari mengajak para siswa-siswi belajar mengenai asal muasal sampah. Data dari TPA Bantar Gebang, jumlah sampah yang masuk sebanyak lebih dari 7 ribu ton per hari. Jika dipilah, sampah bisa bermanfaat, termasuk juga menjadi sumber energi listrik, dari 10 kg sampah bisa menyalakan lampu selama delapan jam.

Melihat langsung gunungan sampah dan sulitnya memilah jika sudah tercampur, siswa-siswi peserta Gerakan Plastic Reborn mulai terketuk semangatnya mengaplikasikan pada lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Seusai mendengar penjelasan sembari makan siang, masing-masing peserta diminta membuang sampah pada tempatnya masing yang telah disediakan, mulai dari sisa makanan, plastik, dan kertas. Yuk, bijak memilah sampah! (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More