BNPB: Jumlah Korban Meninggal Menjadi Tiga Orang dan Ratusan Rumah Rusak

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Sabtu, 16 Des 2017, 16:41 WIB Humaniora
BNPB: Jumlah Korban Meninggal Menjadi Tiga Orang dan Ratusan Rumah Rusak

ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

PENANGANAN darurat dampak gempabumi 6,9 Skala Richter (SR) yang mengguncang wilayah bagian selatan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta masih terus dilakukan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan data sementara yang dihimpun Pusdalops Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sampai dengan hari ini tercatat tiga orang meninggal dunia.

Dua orang menginggal dunia akibat tertimpa tembok rumah yang roboh dan satu orang pada saat terjadi gempa panik berlari kemudian terjatuh.

Ketiga korban yaitu Ibu Aminah, 80, warga Sugihwaras RT 02 RW 18, Kelurahan Kauman, Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Korban meninggal dunia karena tertimpa tembok rumah yang roboh. Lalu Dede Lutfi, 62, warga Desa Gunungsahari RT 04 RW 02, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.

Korban meninggal dunia karena tertimpa tembok rumah yang roboh dan Ibu Fatimah, 34 warga Jambon, Argosari, Sedayu Kabupaten Bantul. Korban meninggal dunia saat panik terjadi gempa lari keluar rumah terjatuh.

"Tiga orang meninggal dunia akibat gempa baik dampak langsung maupun tidak langsung," ujarnya dalam konferensi pers terkait penanganan gempa 6,9 SR di Selatan Jawa, di Graha BNPB Jakarta, pada Sabtu (16/12).

Dia juga menyampaikan, kerusakan bangunan yang ditimbulkan oleh gempa yaitu 282 rumah rusak berat, 152 rumah rusak sedang dan 97 rumah rusak ringan. Sehingga total terdapat 473 rumah rusak. Tetapi belum semua diklarifikasi.

"Selain itu juga beberapa bangunan publik lainnya mengalami kerusakan seperti sekolah, rumah sakit, kantor, masjid, dan pasar. Pendataan masih terus dilakukan," ujar Sutopo.

Disampaikannya, Kepala BNPB Willem Rampangilei saat ini sudah menuju ke lokasi gempa di Tasikmalaya, Jawa Barat. Selain itu tim reaksi cepat BNPB telah berada di lokasi memberikan pendampingan kepada BPBD dalam penanganan darurat. Kepala BNPB, ujarnya juga telah menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo tentang penanganan dan dampak yang ditimbulkan gempa.

"Saran bapak presiden agar penanganan dilakukan secara cepat, korban segera ditemukan kalau masih ada yang hilang, korban yang luka segera dirawat dan pengungsi segera ditangani dengan baik dan dipenuhi kebutuhan dasarnya," tutur Sutopo.

Sejauh ini, ujar Sutopo belum ada laporan korban hilang. Untuk total jumlah pengungsi, BNPB masih belum mendapatkan data lengkapnya. Untuk pengungsi yang rumahnya hancur ditempatkan di tenda, rumah kerabatnya atau balai desa.

Dia menyebutkan daerah terdampak gempa yang merusak terdapat di Kabupaten Pangandaran, Tasikmalaya, Ciamis, Kota Banjar, Garut, Cilacap, Kebumen, Kota Pekalongan, Banyumas, Brebes dan Banjarnegara.

Gempa Susulan
Sutopo menyampaikan terjadi 19 gempa susulan namun kecil serta tidak merusak karena kekuatannya di bawah 5 SR. Menurut Sutopo, itu wajar terjadi ketika ada gempa besar maka disusul oleh gempa kecil. Terkait gempa, pagi tadi sekitar pukul 7.22 dengan kekuatan 5,7 SR, Sutopo menjelaskan gempa itu berasal dari sumber lain di Sebelah Barat Daya jauh dari Garut, Jawa Barat dan tidak menimbulkan kerusakan di sekitar Garut, Sukabumi, Cianjur dan lainnya.

"Semua terjadi di zona subduksi pertemuan lempang Hindia-Austral8a dan Eurasia. Pergerakannya rata-rata 7 centimeter per tahun," terang Sutopo.

Dia lebih lanjut menyampaikan wilayah di Indonesia rawan gempa kecuali Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Disampaikannya, apabila gempa berkekuatan di atas 7,5 SR dengan kedalaman 20 kilometer dan terjadi di subduksi tektonik maka ada potensi tsunami.

Sementara kronologi gempa yang terjadi pada Jumat (15/12) malam, setelah 5 menit terjadi gempa bumi, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyapaikan peringatan dini tsunami di Jawa barat, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, karena skala gempa 7,3 SR. Adapun masyarakat merespon peringatan dini dengan evakuasi.

Kemudian pada Sabtu (16/12) selang dua jam kejadian, pukul 02.30 bmkg menyatakan peringatan dini tsunasi berakhir dan kenyataannya tidak ada tsunami, berdasarkan laporan dari seluruh BPBD yang memantau kondisi muka air laut di pantai selatan tidak ada tanda-tanda adanya permukaan air yang surut, sehingga peringatan dini tsunami dicabut.

Infrastruktur Mitigasi Minim
Sutopo mengungkapkan, Indonesia pernah memiliki alat deteksi tsunami yakni Bouy yang mengirimkam gelombang sinyal dari laut apabila ada potensi tsunami ke satelit sehingga waktu tsunami dapat diperkirakan. Tetapi alat tersebut yang jumlahnya 22 rusak sejal 2012 lalu karena tidak adanya perawatan dan pengerusakan oleh masyarakat.

"Infrastruktur untuk mitigasi tsunami masih sangat minim. Jaringan seismograf, sirine juga sangat minim. Sumber daya manusia juga terbatas. Kami mendorong adanya peningkatan mitigasi maupun kapasitas aparat pemerintah daerah setempat dan masyarakat," papar Sutopo.

Dijelaskannya, saat ini baru terdapat 160 sirine tsunami dari total kebutuhan ratusan ribu. Sebab, satu sirine tsunami hanya dapat menjangkau 2 kilometer. Oleh karena itu, BNPB terus meningkatkan kapasitas BPBD untuk penanganan bencana dan sosialisasi kepada masyarakat.

"BMKG juga menempatkan alat di BPBD sehingga lima menit setelah kejadian gempa mereka mendapatkan informasi tapi belum semua daerah terbangun semua itu," pungkasnya. (OL-6)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More