Berbeda Bentuk tapi Tetap Sama

Penulis: Abdillah M Marzuqi Pada: Minggu, 17 Des 2017, 11:30 WIB Khazanah
Berbeda Bentuk tapi Tetap Sama

Umat Kristen Bali menyanyikan lagu pujian saat melaksanakan misa Natal di Desa Tuka, Badung, Bali---ANTARA/Nyoman Budhiana

ABDILLAH M MARZUQI abdi.zuqi@mediaindonesia.com

NATAL tinggal menghitung hari. Tak selang lama lagi, lantunan lagu-lagu Natal akan terdengar. Pohon Natal serta berbagai ornamen khas Natal akan menghiasi sudut-sudut rumah maupun ruang publik. Ucapan selamat Natal pun bakal menjadi ungkapan yang semakin mempererat persaudaraan dan persahabatan.

Tidak hanya di kota besar, sukacita yang sama pun tampak terasa di berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari makanan khas Natal sampai dengan tradisi-tradisi yang hanya dilakukan saat Natal. Berbicara tentang tradisi, ada berbagai tradisi unik dalam merayakan Natal di berbagai daerah di Indonesia.

Salah satu wilayah di Jakarta Utara misalnya, punya tradisi unik terkait Natal. Tradisi itu dirayakan dan menjadi tradisi yang selalu dilakukan setiap tahunnya oleh warga Kampung Tugu di kawasan Cilincing.

Ketika Natal, warga kampung terlebih dahulu mengunjungi gereja, lalu melakukan tradisi rabo-rabo. Rabo-rabo adalah sebuah tradisi mengunjungi warga lain saat Natal. Setiap warga yang mengunjungi warga lain akan diringi musik serta tarian yang dilakukan bersama-sama. Setiap warga yang dikunjungi harus ikut dengan rombongan yang menari. Lalu diteruskan mengunjungi warga lainnya dari rumah ke rumah.

Sesudah selesai saling berkunjung, puncak dari tradisi rabo-rabo adalah mandi bedak. Masyarakat yang merayakan Natal bakal membedaki orang yang sedang berkumpul itu dengan bedak warna-warni. Acara mandi ini merupakan simbol bagi warga kampung sebagai penebusan dosa dan saling minta maaf menjelang tahun baru mendatang.

Bergeser ke wilayah Yogyakarta. Kota yang sangat kental dengan budaya itu juga punya tradisi unik. Perayaan Natal disana selalu disertai dengan budaya yang memang telah menjadi roh dan nyawa Yogyakarta. Biasanya perayaan Natal juga disertai dengan pagelaran wayang kulit dengan tema Kelahiran Yesus. Saat Natal, warga juga saling mengunjungi.

Tradisi masyarakat Toba punya berkumpul saat perayaan Natal dan Tahun Baru. Mereka mempunyai tradisi makan bersama keluar besar. Biasanya acara makan bersama digelar dirumah anggota keluarga yang paling tua, sedangkan di Papua juga.

Tradisi lainnya yang tidak kalah unik adalah tradisi Barapen yang biasa dilakukan masyarakat di Papua. Barapen adalah tradisi membakar batu yang nantinya akan dijadikan sebagai tempat untuk memasak daging babi. Acara kuliner ini dijadikan sebagai bagian dari pesta lahirnya Yesus Kristus.

Kaya budaya dan tradisi
Berbagai tradisi unik yang dilakukan saat Natal menjadi bukti betapa Indonesia sangat beraneka ragam. Dari mulai budaya, tradisi, sampai ketika perayaan dan pesta pun berlainan bentuk. Setiap daerah punya tradisi tersendiri. Setiap masyarakat punya cara untuk merayakan Natal sesuai dengan tradisi mereka.

Menurut budayawan Gregorius Budi Subanar, meski berbeda secara bentuk perayaan dan pesta antara satu daerah dan daerah lain, tapi secara jiwa dan semangat sama. Menurutnya, terdapat tiga unsur dalam setiap perayaan Natal, yakni kegembiraan, pengenangan, dan pengharapan.

“Jadi kalau perayaan itu selalu mengandung tiga unsur. Unsur kegembiraan, syukur, unsur pengenangan yang dikenang dalam hal ini adalah Yesus penebus dunia. Lalu, yang ketiga adalah unsur pengharapan,” terang Gregorius Budi Subanar yang akrab dipanggil Romo Banar.

Unsur kedua ialah pengenangan. Romo Banar menjelaskan bahwa dalam unsur pengenangan.
Perayaan Natal untuk mengenang kelahiran Yesus, serta menempatkan Allah yang menghargai dan menghormati manusia dengan orang lain. Sekaligus mengenang semangat saling menghargai dan menghormati antar sesama.

“Lalu didalam unsur pengenangan Yesus sebagai juru selamat yang lahir itu kan menghargai, menempatkan sesama. Jadi maka itu saling mengunjungi. Saling mengundang,” terusnya.

Unsur terakhir ialah pengharapan. Unsur itu bermakna pengharapan terhadap suasana hidup baru yang lebih baik. Harapan menjadi pijakan untuk masa depan yang baru. Masa depan itu dijiwai dan disemangati pada yang dirayakan dan dirasakan setelah perayaan serta hari-hari mendatang.

“Maka unsur yang ketiga adalah unsur pengharapan. Yang diharapkan adalah sesudah perayaan, sesudah pengenangan, sesudah syukur itu sebuah suasana hidup yang baru,” imbuhnya.
Ketiga unsur itu ada dalam setiap perayaan Natal. Ketiga unsur itulah yang diwujudkan dalam banyak bentuk. Setiap daerah mempunyai tradisi yang berbeda dengan daerah lain.

Itulah sebabnya perwujudan ketiga unsur itu juga berbeda. Misalnya, tradisi perayaan Natal di Yogyakarta berbeda dengan di Manado. Begitupun daerah lain. Yang pasti, perayaan itu adalah perwujudan dari ungkapan kegembiraan.

“Nah, lalu ketiga unsur itu lalu diungkapkan dengan pesta itu. Saling mengunjungi dengan bermacam-macam ekspresi. Itu kan lalu kelihatan sekali bahwa dalam saling mengunjungi itu saling mengungkapkan kegembiraan,” tambah Romo Banar.

“Jadi dengan demikian bisa dipahami, bisa ditempatkan, bagaimana perayaan antara satu daerah dengan yang lain itu berbeda tapi ada unsur-unsur dasar yang sama,” pungkas Romo Banar. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More