Dompet Bersirene bagi para Tunanetra

Penulis: SURYANI WANDARI muda@indonesia.com Pada: Minggu, 24 Des 2017, 02:31 WIB MI Muda
Dompet Bersirene bagi para Tunanetra

DOK PRIBADI

Para tunanetra mesti berjuang ekstra teliti atau bahkan dibantu untuk mengenali uang, baik membedakannya dengan uang palsu maupun nilai nominalnya. Konsep 3D, dilihat, diraba, dan diterawang nyatanya tidak sepenuhnya bisa dilakukan mereka. Masalah itu kemudian menjadi tantangan yang coba dijawab 3 siswa Kelas 12 SMA Negeri Unggulan MH Thamrin Jakarta Timur. Arya Ananda, Freddy Millenial, dan Prasista Ariadna Indrajaya Lukmana menciptakan tas pinggang untuk tunaneĀ­tra yang dilengkapi perangkat khusus untuk mendeteksi nominal uang. Alat itu bernama Stormer alias Smart Portable Money Storage.

Stormer ini lebih mudah melakukan transaksi, menyimpan, serta meminimalisasi pencurian uang pada penderita tunanetra. Mereka menjadi juara 3 dari 26 karya yang masuk Lomba Desain Alat Bantu Disabilitas Tunanetra yang diselenggarakan Syamsi Dhuha Foundation (SDF). Kompetisi ini diadakan dalam rangka World Sight Day (WSD) 2017. Muda berbincang dengan 3 siswa ini di sekolahnya, Rabu (22/11), simak ya!

Ceritakan dong motivasi kalian ikut kompetisi ini?
Jujur saja, karena lombanya menarik serta empati kepada mereka, itu yang menjadi sumber semangat kami.

Idenya dari mana?
Kami mencari tahu soal kompetisi ini. Lalu, di tayangan Youtube tentang Blind Social Eksperiment memperlihatkan, salah satu masalah yang dihadapi tunanetra, saat membeli barang ke warung atau menukarkan uang, yang mereka dapatkan sering kurang. Yang saya lihat, tidak semua tunanetra bisa mendeteksi uang dari perabaan.

Apa sih masalah yang dihadapi para tunanetra terkait dengan uang?
Konsep dilihat, diraba, dan diterawang untuk mendeteksi uang palsu, hanya bisa dilaksanakan tunanetra, pada langkah diraba saja. Sementara itu, pemilik yayasan yang mengadakan lomba ini, yang juga low vision bilang, selama ini bisa merasakan dan membedakan, tapi itu pun jika sudah terbiasa. Teknik membedakan nilai nominal pada uang kertas, itu juga jadi persoalan. Yang sudah jelas terasa itu koin, sedangkan uang kertas bentuknya sama. Kalau yang kami teliti, yang membedakannya hanya panjangnya yang berbeda dan bagian yang diraba, tapi kan kalau yang udah lecek susah diidentifikasi.

Lalu, solusi kalian?
Kita buat tas pinggang dengan dua bagian, yakni kompartemen yang isinya sensor atau bagian elektroniknya, dan satu bagian lagi wadah uang dengan tulisan braille, sehingga para tunanetra bisa memasukkan uang sesuai nominalnya, memudahkan mereka menerima dan mengeluarkan.

Alat kalian menggunakan sensor apa?
Kita mendeteksi uang memakai sensor warna, diolah rangkaian elektronik, dan output-nya berupa sirene dengan kode bunyi panjang dan pendek. Bunyi panjang mengisyaratkan Rp10 ribu dan pendek mengisyaratkan dikalikan 1. Misalnya, kalau Rp10 ribu akan ada bunyi panjang 1 kali, kalau 50 ribu panjang 1 kali dan pendek 5 kali atau Rp20 ribu akan ada bunyi 1 panjang dan pendek 2 kali. Namun, alat ini belum bisa mendeteksi uang palsu, sehingga masih jadi kelemahan inovasi kami.

Cara kerjanya alat kalian?
Pertama, pengguna harus menyalakan saklar kompartemen. Bel akan berbunyi, tunggu beberapa saat. Kemudian, letakan uang yang ingin dideteksi pada bagian pendeteksi uang pada kompartemen. Simpan uang di dalam dompet braille yang telah disediakan. Angka braille dibaca dari atas dan dibaca ketika dipakai di pinggang.

Energi mesin ini perlu diisi ulang?
Ya, tapi untuk saat ini penggunaan kami anjurkan untuk menggunakan power bank sebagai pengganti baterai atau catu daya. Daya yang dikeluarkan power bank akan lebih stabil, keuntungan lainnya, dayanya bisa diisi ulang.

Alat kalian sudah bisa mendeteksi uang baru?
Sudah, apalagi Rp50 ribu dan Rp100 ribu lama dan baru kan warnanya sama. Yang masih agak susah itu mendeteksi Rp20 ribu baru, soalnya warnanya agak kebiruan saat terdeteksi sensor warna. Warna dasar kan ada tiga, yakni merah, biru, dan kuning. Begitupun dalam sensor ini, kami buat range-nya.

Berapa lama proses pembuatannya?
Sebenarnya, kami diberi waktu agak lama, tapi karena lagi sibuk dengan tugas dan persiapan UN, jadi ngebut dikerjakan selama seminggu. Idenya kami buat dulu di proposal yang kemudian dipresentasikan, baru setelah pengumuman, kami harus buat prototipe.
Kami merancang desainnya, menjahit tas, dan merancang alat elektronik didalamnya.

Bahan tasnya jenis apa?
Untuk tas, bisa bahan kanvas juga jins, sedangkan sensornya, kami pilih sederhana dan kecil supaya bisa dipakai, kurang lebih Rp60 ribuan dan otaknya Rp40 ribuan. Alat ini kami solder dan rangkai sendiri.

Pernah diuji coba pada para tunanetra?
Sudah, saat pameran 14 Oktober 2017, saya juga sempat deg-degan takutnya enggak berguna, terus nggak ada antusias dari pengunjung pameran. Eh ternyata ramai sekali, sampai mereka rebutan pengen tangannya dimasukin ke alat itu. Wah, itu rasanya luar biasa!

Rencana kedepannya seperti apa, apakah akan dikembangkan lagi?
Ada sih, tapi sekarang alatnya ada di penyelenggara. Nanti mungkin kalau sudah ada yang melirik akan didiskusikan lagi dengan mereka. Namun sekarang, kami benar-benar pending dulu karena banyak tugas dan persiapan ujian.

Kira-kira akan dijual berapa?
Kalau produksi massal sih kita maunya seminimal mungkin, sekitar Rp250 ribu lah, karena semakin banyak yang membeli, harganya akan makin murah. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More