Menjadikan Kebun Bambu kembali Dicintai

Penulis: Suryani Wandari Putri Pada: Sabtu, 06 Jan 2018, 12:40 WIB KICK ANDY
Menjadikan Kebun Bambu kembali Dicintai

Fransisca Callista---MI/Usman Iskandar

SEBAGIAN masyarakat muda memandang desa tidak memiliki nilai ekonomi. Kehidupan di desa yang identik dengan pertanian sebagai tiang penyangga utama kalah populer jika dibandingkan dengan sektor industri di kota-kota besar. Lambat laun, desa pun kian terlupakan.

Atas semangat revitalisasi desa, komunitas Spedagi yang digawangi Singgih Susilo Kartono dan Fransisca Callista menggagas berbagai ide demi meningkatkan nilai desa dengan memanfaatkan kearifan lokal desa. Seperti dilakukan di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Temanggung, Jawa Tengah, bersama para pemuda dusun, mereka membedah potensi desa.

“Saat ini terlihat dari kebun bambu pasti identik dengan kumuh dan kotor bahkan dijadikan tempat pembuangan sampah, yang terpikirkan oleh kami adalah bagaimana caranya membuat kebun bambu dicintai kembali oleh warganya dengan pendekatan kreatif,” kata Sisca, Project Manager Pasar Papringan.

Mereka pun memulai langkah melalui Pasar Papringan, sebuah gelaran pasar tumpah yang diadakan di kebun bambu sekitar dusun. Area pohon bambu yang banyak sampah mereka ubah menjadi tempat yang nyaman untuk menikmati berbagai macam kearifan lokal desa.

Ajang ini melibatkan seluruh warga Dusun Ngadiprono. Mulai orangtua hingga anak-anak turut berpartisipasi dalam tiap rangkaian acara. Demi menjaga kualitas produk yang dijajankan, warga pun mendapatkan pendampingan dari para ahli di bidangnya. Konsep pasar ini ingin menghadirkan kembali berbagai macam produk yang berasal dari desa. Mulai kuliner, kerajinan, hingga hasil kebun dan pertanian daerah sekitar.

Alat pembayaran pun tidak menggunakan uang rupiah, tetapi keping­an bambu yang telah diberi tanda khusus. Sekitar 3.000 pengunjung dari berbagai daerah mendatangi pasar yang diadakan tiap Minggu Wage dan Pon. Sejak pukul 06.00, mereka sudah memadati kompleks pasar hingga siang hari.

Media sosial
Menurut Sisca, dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, media sosial dan dari mulut ke mulut, kini bukan hanya warga lokal yang datang, melainkan warga asing. Menurutnya banyak warga asing yang mengapresiasi pasar ini. “Jadi, mereka ke Indonesia tidak harus disuguhkan dengan melihat desa dari potensi keindahannya saja. Justru permasalahan menjadi potensi, yang dulunya tidak ada apa-apanya menjadi sesuatu yang bisa memberdayakan dan memanfaatkan masyarakat,” kata Sisca.

Dalam menciptakan pasar ini, Sisca yang bukan penduduk asli Ngadiprono sudah dua tahun terakhir mengabdikan diri di desa tersebut dan turut dalam upaya pemberdayaan warga. Sisca mendorong warga desa untuk tetap menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan sekitar desa demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu di pasar ini tidak akan ditemukan plastik untuk menyim­pan belanjaan, bahkan makanan yang dijualnya ini sehat karena dimasak tanpa MSG, pewarna, ataupun penyedap makanan.

Ekonomi masyarakat esa pun kini berkembang. Mereka mulai menyadari bahwa desa, tempat tinggal mereka, memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan untuk kehidupan desa yang lebih baik. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More