Bangkit untuk Mencegah

Penulis: Ferdian Ananda Majni Pada: Minggu, 14 Jan 2018, 08:57 WIB Jeda
Bangkit untuk Mencegah

Ilustrasi

SUASANA sebuah rumah di pinggiran stasiun Bekasi, Jawa Barat, seusai salat Magrib riuh. Jumat (12/1) malam anak-anak usia taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah dasar (SD) berkumpul.

Mereka mengikuti aktivitas komunitas Cahaya Anak Negeri (CAN) yang berlangsung dua sesi, pukul 19.30 WIB dan pukul 21.30. Di rumah berkaca putih itu, anak-anak tersebut membentuk lingkaran kecil dan didampingi kakak pengasuh. Dalam lingkaran itu, mereka belajar berhitung hingga membaca Alquran.

Di tengah kegaduhan itu, remaja berusia 18 tahun berupaya menenangkan mereka. Mamis, begitu ia dipanggil, terus mengajari dan menjawab setiap pertanyaan anak-anak itu.

Mamis dibesarkan neneknya setelah orangtuanya bercerai. Sebelum bergabung CAN, ia menghabiskan waktu mengamen di jalanan bersama rekan sebayanya. Remaja yang bercita-cita menjadi pemadam kebakaran itu mengalami pengalaman pahit, kekerasan, hingga pelecehan seksual.

Mamis mengaku pernah bekerja bongkar pasang pemasangan teratak. Seusai bekerja ia tertidur di tempat penginapan dan terbangun dengan kondisi celana terbuka. "Saya dulu kerja pasang tenda. Pendampingannya banci. Saya merasa dilecehkan, pas bangun celana saya terbuka dan banci itu tertidur di dekat saya," sebutnya. Tidak henti di situ, ketika tinggal di rumah bibinya, ia diminta berpacaran dengan banci untuk bisa hidup lebih enak. Namun, itu ditolaknya.

Tidak ingin pengalamannya terulang, Mamis mengingatkan anak-anak di CAN waspada dan tidak menerima uang dari orang yang tidak dikenal, apalagi jika bertujuan memegang bagian-bagian tubuh tertentu.

"Saya sering bilang karena anak kecil kan biasanya terpengaruh karena dikasih duit. Jadi mereka harus waspada, apalagi sampai dipegang-pegang itu," pungkasnya.

Peringatannya bukan tanpa alasan. Mamis pernah menjadi korban pedofilia saat kelas 4 SD. Kala itu ia tidak paham kalau yang dilakukan pria itu merupakan pelecehan seksual. Hingga kini sang pelaku masih bebas berkeliaran. "Waktu itu ada bapak-bapak yang senang sama anak kecil. Jadi semua anak senang sama dia karena ada imbalannya," katanya.

Menurutnya, perilaku pedofilia bapak tersebut diketahui ketika salah satu korban bercerita kepadanya. "Setelah kejadian itu, kami selalu sembunyi kalau ketemu dia" jelasnya. Meski demikian, pria dewasa itu sering kali menunggu anak-anak saat pulang sekolah dan masjid. Bahkan, beberapa anak-anak sempat ia foto dengan kamera gawainya.

Selain itu, ia dilecehkan tukang bangunan tidak jauh dari rumahnya. Parahnya, beberapa bulan yang lalu ia mengalami pelecehan yang dilalukan orang yang dikenalinya. Bahkan, ia pernah diancam diperkosa di hadapan orangtuanya.

Remaja berjilbab itu mengaku terpuruk. Setelah mengenal CAN, ia mulai termotivasi untuk melanjutkan pendidikannya. Ia pun terus-menerus memperingati anak-anak jalanan waspada pada orang baru yang mendekati mereka. Keberaniannya untuk bangkit dan melakukan pencegahan menjadi upaya memecah rantai setan yang selama ini ditakutkan masyarakat, yaitu korban kekerasan seksual di kemudian hari menjadi pelaku.

Salah satu pendiri Komunitas Cahaya Anak Negeri (CAN) Nadiah Abidin mengatakan banyak kekerasan dan pelecehan seksual terjadi terhadap anak-anak yang hidup di jalanan. "Ada banyak cerita dari mereka, latar belakang mereka dari jalanan, juga kerap menjadikan mereka korban pedofilia. Bahkan, ada anak kelas 6 SD yang hamil, itu dilakukan pelaku pedofilia," katanya.

Melalui CAN, Nadiah berharap bisa memberikan kesempatan yang sama untuk anak-anak jalanan. "Ada sekitar 70 anak yang belajar di sini, tetapi hanya sekitar 40 orang yang datang reguler. Kebanyakan mereka memang anak jalanan. Kita memang tidak mencatat riwayat mereka, tetapi kita selalu berkomunikasi untuk mengetahui permasalahan hingga kehidupan masa lalunya agar kita bisa bertindak memberikan solusi," pungkasnya.

Rentan

Rentannya anak jalanan menjadi korban kekerasan seksual diakui Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial DKI Jakarta, Chaidir. Mereka pun sudah memiliki berbagai program, salah satunya melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS).

"DKI ada beberapa LKS dan LKS-LKS itu peran serta masyarakat yang ikut juga membina terhadap masalah anak yang terlantar atau anak jalanan. Di sana dilakukan pembinaan secara insentif dan mereka diangkat menjadi anak angkat. Misalnya ada masyarakat yang ingin menjadi orangtua angkatnya itu ada," jelas Chaidir Kamis (11/1).

Selain itu, ada beberapa rumah singgah yang saling berkoordinasi. Di samping itu, mereka melakukan penjagaan di titik-titik rawan permasalahan kesejahteraan sosial.

"Di Ibu Kota, itu ada 276 titik rawan yang kita jaga, awalnya hanya 96 titik. Jadi, kalau ada kejadian di titik-titik tersebut itu langsung bisa dibawa untuk rehabilitasi di panti," imbuhnya.

Sayangnya, Dinas sosial tidak menangani anak-anak korban kekerasan seksual karena itu kewenangan KPAI dan PP2A. "Kalau masalah traficking itu larinya ke kepolisian karena di sana ada seksi perlindungan anak dan perempuan," tambahnya.

Di sisi lain, Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Reza Indragiri Amriel mengingatkan kekerasan seksual terhadap anak tidak semata pelakunya orang dewasa. Terkadang pelaku merupakan anak-anak di bawah umur. "Jika pelakunya anak-anak, acuan kita UUD Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA). Meski mereka terdapat sejumlah dispensasi, saya mempertanyakan konsistensi sikap kita. Banyak pegiat mengatakan darurat ini dan itu," terangnya.

Menurutnya, jika disikapi sebagai kondisi darurat, UUD SPPA harus direvisi dan ancaman hukuman bagi pelaku usia anak-anak juga diperberat. "Aneh, jika situasi dianggap semakin buruk. Anak-anak dianggap semakin bejat tetapi UUD SPPA dibiarkan status quo, jadi tetap memberikan keringanan. Warna darurat itu hanya ada di mulut saja, tidak tecermin dalam konstruksi hukum kita," paparnya. (Riz/M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More