Ada Empat Isu Krusial Ganggu Keamanan Kawasan

Penulis: Administrator Pada: Jumat, 19 Jan 2018, 16:44 WIB Polkam dan HAM
Ada Empat Isu Krusial Ganggu Keamanan Kawasan

dok MI


MENTERI Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menyebutkan saat ini dunia tengah menghadapi empat isu krusial yang dapat mengganggu keamanan kawasan regional dan wilayah.

"Saat ini dunia masih diwarnai dengan adanya empat isu aktual keamanan serius, yang perlu mendapatkan perhatian kita bersama," kata Menhan dalam siaran persnya di Jakarta, Jumat (19).

Menhan saat menyampaikan pembicara kunci pada Dialog Raisina, India, Kamis (18/1), mengatakan empat isu krusial itu adalah Korea Utara, perkembangan Laut Cina Selatan, trilateral pengamanan Laut Sulu dari potensi ancaman ISIS, serta perkembangan krisis Rohingnya.

Mengenai isu ketegangan di semenanjung Korea, Ryamizard mengajak semua pihak untuk tidak terprovokasi dengan situasi yang justru dapat memicu eskalasi konflik.

"Marilah kita bersama-sama mengajak PBB untuk dapat mengambil langkah-langkah produktif untuk dapat lebih menekan Korea Utara agar dapat lebih menghormati hukum dan norma serta tatanan internasional," tutur mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini.

Di sisi lain, lanjut dia, situasi ketegangan Laut Cina Selatan yang sudah cenderung mereda dan membaik perlu terus dipelihara. Indonesia juga memandang untuk mengapresiasi niat baik Tiongkok, yang sudah membuka diri dan berkeinginan untuk bekerja sama dalam memperkuat arsitektur keamanan kawasan.

"Ancaman yang sangat nyata pada saat ini dan memerlukan perhatian dan tindakan bersama yang serius adalah ancaman bahaya terorisme dan radikalisme," tuturnya seperti dilansir Antara.

Ancaman terorisme dan radikalisme merupakan ancaman yang bersifat lintas negara dan memiliki jaringan serta kegiatan yang tersebar dan tertutup.

Sehingga, dalam penanganannya sangat memerlukan penanganan kolektif dan tindakan bersama-sama melalui kolaborasi kapabilitas dan interaksi antar negara yang intensif, konstruktif dan konkrit.

Di kawasan Asia Tenggara, Filipina Selatan telah dijadikan sebagai salah satu basis kekuatan ISIS yang ikut memicu aksi-aksi teror lain di kawasan Asia Tenggara.

Kelompok itu terus berencana untuk membangun Daulah lslamiyyah Katibah Nusantara. Ini merupakan aliansi dari Divisi Islamic State Asia Timur di bawah kendali struktur ISIS Pusat yang dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi yang berbasis di Syria dan Irak.

"Guna mengatasi potensi ancaman terorisme dan radikalisme ini, maka Indonesia bersama negara lainnya yaitu Filipina dan Malaysia telah mengambil langkah-langkah kerja sama yang konkrit melalui pembentukan platform kerja sama Trilateral di Laut Sulu yang diisi dengan kegiatan patroli bersama," ucap Menhan.

Selain itu, masalah lain yang tidak luput dari perhatian adalah krisis Rohingnya di Rakhine State, Myanmar. Saat ini sangat diperlukan langkah konkrit dan penanganan bersama di kawasan yang tepat sasaran.

"Karena bila tidak ditangani dengan baik dan benar, para pengungsi yang rapuh ini dapat direkrut oleh kelompok ISIS untuk memperkuat jaringannya," ucap Menhan.

Untuk lebih memperkuat sistem pengawasan dan deteksi dini terhadap potensi berkembangnya ancaman ISIS di kawasan, Kementerian Pertahanan sendiri sudah mengeluarkan satu inisiatif platform kerja sama baru, yakni konsep kerja sama pertukaran intelijen strategis bernama Our Eyes.

Konsep tersebut hampir mirip dengan konsep Five Eyes negara barat yang melibatkan unsur kerja sama pertahanan/militer dan jaringan intelijen secara terintegrasi. Konsep itu adalah murni kerja sama untuk mengatasi ancaman terorisme dan radikalisme di kawasan tanpa ada agenda politik di dalamnya.

"Konsep ini telah didukung secara aklamasi oleh para Menhan ASEAN serta beberapa negara mitra seperti Amerika Serikat, Australia, Rusia dan Jepang, menyatakan keinginannya untuk bergabung," demikian Menhan Ryamizard. (OL-4)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More