Solusi Mengatasi Kesenjangan Ekonomi

Penulis: Ferdian Ananda Majni Pada: Sabtu, 20 Jan 2018, 11:31 WIB Jendela Buku
Solusi Mengatasi Kesenjangan Ekonomi

MI/Seno

PERSOALAN kesenjangan memang bukan sekadar statistik atau indeks gini.

Analisis seperti ini mungkin hanya dimengerti sebagian elite masyarakat, seperti ekonom, ahli statistika, atau mereka yang memiliki perhatian tentang perubahan sosial-ekonomi.

Persoalan kesenjagan punya makna lebih dalam dari sekadar deretan angka.

Hal itu berhubungan erat dengan masalah keadilan, keterbukaan informasi, serta pemerataan kesempatan dan akses dari sebuah proses perubahan yang bernama pembangunan.

Deretan kampung kumuh di antara bangunan megah yang menjulang tinggi di perkotaan; terang benderangnya Kota Jakarta.

Sementara listrik di luar Pulau Jawa; serta akrabnya terminologi daerah maju dan daerah yang masih terbelakang, adalah sebuah kesenjangan.

Saat ini, yang terjadi bukan hanya sekadar perdebatan antara si miskin dan si kaya, atau kesenjangan geografis antara ibu kota dan desa, serta pusat dan pinggiran.

Namun, lebih dalam lagi, kesenjangan rupanya sudah merambah pada aspek kesempatan.

Memang, tidak sedikit orang mengira bahwa kesenjangan hanyalah hal natural. Kemudian, tujuan dan terminologinya disempitkan hanya menjadi perbedaan pendapatan dan kekayaan antarindividu, kelompok, dan wilayah.

Padahal, kenyataanya tidak seperti itu.

Kesenjangan bukanlah sebuah kejadian alamiah.

Kesenjangan diciptakan manusia, baik melalui kebijakan, institusi, keserakahan dalam akumulasi modal, perburuan rente, maupun alasan lainnya.

Kesenjangan juga bukan hanya persoalan pendapatan, melainkan juga tentang kesempatan atau akses seseorang mengaktualisasikan potensi terbaiknya.

Kesenjangan, baik ekonomi maupun sosial biasanya ada dalam bentuk seperti kewarganegaraan (Galbraith, Inequality: What Everyone Needs to Know, 2016).

Dalam konteks kesenjangan ekonomi, para ekonom biasanya lebih tertarik pada tiga tipe kesenjangan yaitu kesenjangan gaji, kesenjangan pendapatan, dan kesenjangan kekayaan.

Hal ini, karena ketiga tipe kesenjangan tersebut lebih mudah diukur, berbeda dengan kesenjangan ras atau gender.

Dalam terminologi lain, kesejangan ekonomi dapat dilihat dari berbeagai perspektif.

Setiap perspektif memberikan wawasan mengenai sifat dasar, penyebab, dan konsekuensinya terhadap kesenjangan ekonomi yang berbeda-beda (Intenational Monetary Fund, 2014).

Berdasarkan dimensinya, kesenjangan bisa dibagi menjadi lima jenis (UNCDF, 2013) yaitu kesenjangan antarindividu, kesenjangan teritorial, kesenjangan antargender, kesenjangan pendapatan finansial, dan kesenjangan digital.

Dalam perspektif yang lebih luas, adanya kesenjangan juga dapat memberikan dampak positif guna memperbaiki pertumbuhan ekonomi.

Bahkan kesenjangan akan memberikan insentif bagi setiap orang, termasuk kelompok masyarakat yang tertinggal untuk terus berusaha (termasuk menjadi wiraswasta) dan berinovasi dalam berusaha (Lazear dan Rosen, 1981).

Fenomena ini bisa dijelaskan, yakni kesenjangan pendapatan membuat orang miskin tidak memiliki banyak aset dibandingkan orang kaya.

Karena terjadi kesenjangan distribusi aset. Orang miskin tidak bisa mengunakan asetnya sebagai jaminan untuk mendapatkan kredit dari institusi keuangan.

Padahal, layanan kredit juga dapat mempengaruhi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi dengan cara penciptaan lapangan kerja dan transfer pendapatan.

Melawan kesenjagan

Kesenjangan bukan sesuatu yang kekal dan abadi. Ia dapat dihindari dan dihilangkan.

Akan tetapi, perlu dicatat bahwa ada satu peluru ampuh (magic bullet) untuk menurunkan atau melawan kesenjangan.

Untuk mempersempit jurang kesenjangan, diperlukan usaha gotong royong dari berbagai sektor dan aktor.

Setidaknya, ada enam cara menurunkan tingkat kesenjangan, yaitu pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, kebijakan fiskal redistributif, investasi pada perlindungan sosial, memperkuat kesetaraan dalam kesempatan, melawan praktik rente, dan perubahan sistem politik.

Namun, sekali lagi, seperti yang sering diutarakan tidak ada peluruh ampuh untuk mempersempit jurang kesenjangan.

Salah satu indikator pokok dalam mengukur keberhasilan pembangunan suatu negara ialah laju pertumbuhan ekonomi.

Ekonomi dikatakan mengalami pertumbuhan jika produksi barang dan jas meningkat dari tahun sebelumnya, lalu menghasilkan tambahan pendapatan atau kesejahteraan masyarakat dalam periode waktu tertentu.

Di beberapa negera berkembang, termasuk Indonesia, pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi sasaran utama pembangunan.

Namun, persoalannya ialah sasaran pertumbuhan ekonomi yang tinggi belumlah cukup menjadi jaminan bahwa kesejahteraan masyarakat akan meningkat secara merata.

Oleh karena itu, laju pertumbuhan ekonomi seyogianya harus diiringi dengan pemerataan distribusi pendapatan.

Ia harus mencapai kondisi full employment agar hasil pertumbuhan ekonomi dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat.

Selain itu, program perlindungan sosial dapat berfungsi dalam empat hal, yaitu proteksi, preventif, promotif, dan transformatif.

Fungsi proteksi berupa penyediaan bantuan dari kerugian yang diderita (seperti pendapatan, dan pensiunan dari negara).

Fungsi preventif berupa pencegahan terjadinya kerugian (seperti gerakan menabung dan asuransi sosial).

Adapun fungsi promotif ialah mendorong peningkatan pendapatan dan kemampuan penerima.

Adapun fungsi transformatif ialah mendorong terwujudnya keadilan sosial dan inklusi serta hak-hak yang sepadan.

Adanya program perlindungan sosial bukan hanya diharapkan dapat mengurangi kesenjagan, melainkan juga sangat membantu melindungi kelompok rawan, terutama ketika terjadi gejolak (misalnya krisis ekonomi dan bencana alam).

Bagi kelompok rawan, gejolak itu akan membuat mereka jatuh miskin.

Tingkat kesenjangan yang tinggi biasanya merefleksikan ketidaksamarataan distribusi aset, seperti tanah dan modal manusia.

Di berbagai negara, kesenjangan aset dan pendapatan biasanya sangat berkaitan (De Ferranti, et al, 2003).

Tingkat kesenjangan yang tinggi juga mengambarkan kegagalan performa kebijakan fiskal, terutama dalam menjalankan fungsi distribusi.

Sementara secara prinsip, kesetaraan kesempatan ialah bentuk egaliter yang minimal. Ketika diaplikasikan di dunia nyata, kesetaraan kesempatan tetap menjunjung perbedaan hasil.

Sebab, perbedaan hasil tercipta dari perbedaan sokongan, seperti motivasi, talenta, kemampuan, dan usaha.

Sayangnya, dalam ekonomi juga terjadi persaingan yang tidak sehat. Praktik rente, misalnya.

Semakin banyak rente yang muncul dari sektor informasi dan keuangan.

Di Amerika, pertumbuhan orang super kaya selama tiga dekade terakhir kebayakan berasal dari sektor finansial dan para eksekutor di sektor nonfinansial (Bakija, Cole dan Heim, 2012)

Begitu juga dalam suasana demokrasi, dapat dikatakan bahwa adanya kesenjangan ekonomi dan akses politik.

Oleh karena itu, untuk memenangi suatu pemilu (sebagai suatu proses demokrasi) diperlukan uang (sebagai suatu kekuatan ekonomi).

Pendeknya kekuatan ekonomi (kekayaan) cenderung menjadi satu kekuatan politik tersendiri. Artinya terjadi mobilisasi 'modal' pengertian ekonomi ke dalam 'modal' dalam sistem politik.

Dalam sistem demokrasi, kekuatan ekonomi yang erat hubungannya dengan kekuatan politik, menciptakan sistem politik yang dipengaruhi pemilik modal dan kekayaan ekonomi yang bersumber dari sistem politik.

Demi mencapai ekonomi yang lebih setara, bukan berarti setiap negara harus mengubah sistem politiknya menjadi komunis, islamis, atau sosial demokrasi.

Hasil penelitian menujukkan bahwa demokrasi politik an sich tidak sepenuhnya membawa hasil ekonomi yang baik.

Buku Kesenjangan Ekonomi: Mewujudkan Keadilan Sosial di Indonesia ini tuntas membahas masalah kronis yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Penulis mengupas kesenjangan secara lengkap dan komprehensif.

Antara lain, sisi teoritis, sejarah, dan penyebab kesenjangan baik di tingkat global maupun Indonesia.

Penyajian alur pemikiran juga begitu apik dengan dukungan metode analisis.

Buku ini menjadi sumbangan berharga, penulis secara berani memasuki wilayah nonteknis ekonomi sehingga memberikan perspektif yang utuh dan segar terhadap masalah kronis di Indonesia.

Oleh karena itu, buku setebal 380 halaman ini setidaknya akan memberikan kontribusi dan refensi yang sangat baik, tidak hanya bagi politikus dan pengambil kebijakan, tetapi kalangan akademisi serta masyarakat umum.

(M-2)

___________________________

Judul : Kesenjangan Ekonomi: Mewujudkan Keadilan Sosial di

Indonesia

Penulis : Eka Sastra

Penerbit: Expose PT Mizan Publika

Terbit : Desember 2017

Tebal : 394 Halaman

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More