Sekolah buat Masyarakat Ruteng

Penulis: Fathurrozak Jek Pada: Sabtu, 20 Jan 2018, 23:31 WIB MI Muda
Sekolah buat Masyarakat Ruteng

WWW.LAFARGEHOLCIM-FOUNDATION.ORG

ANDI Subagio mengeksplorasi bambu Flores menjadi karya arsitektural berwujud sekolah multifungsi di Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bukan sekadar sekolah, Andi ingin menghadirkan sekolah sebagai wahana berinteraksi warga.

Kini, proyek School Hub Vocational Training Facility yang digagasnya telah masuk tahap satu, yakni pembangunan 12 kelas di sayap utara.

Lewat karya itu, Andi bersama kantor biro arsitek yang digagasnya, Subagio Studio, diganjar penghargaan Next Generation Award pada Lafarge Holcim Award Asia Pasifik 2017 di Kualalumpur, Malaysia. Penghargaan itu mengapresiasi proyek arsitektur visioner serta berani. Muda mewawancarai Andi untuk menyerap semangatnya!

Ceritakan dong bagaimana proyek sekolah multifungsi ini digagas?

Penggagas proyek ini adalah yayasan yang mengelola sekolah nonprofit, termasuk SMP saya dahulu di Madiun, Jawa Timur. Kami ditugaskan membuat rancangan SMK otomotif dan pengelasan, hingga kemudian kami mengadakan beberapa kali kunjungan ke lokasi di Ruteng, Flores, serta diskusi.

Akhirnya, berkembanglah gagasan pembangunan menjadi school hub setelah melihat banyaknya potensi internal dan eksternalnya.

Di Ruteng, yayasan ini memiliki karya sosial berupa kegiatan belajar mengajar yang menggunakan bangunan yang telah ada sebelumnya dan ruang-ruang darurat. Kegiatan sudah berjalan satu tahun.

Rupanya, antusiasme masyarakat tinggi, pendaftar bisa mencapai tiga hingga lima kali lipat dari kuota. Yayasan pun memutuskan untuk membuat bangunan permanen. Terkait menjadi hub, tentu ada faktor yang lebih luas ketimbang hanya sekolah sebagai sebuah bangunan. Dalam hal ini, dalam skala kota, Ruteng merupakan kota terbesar di Kabupaten Manggarai.

Banyak sekali pendatang dengan berbagai kepentingan. Namun, Ruteng bukan tujuan wisata, melainkan tempat transit menuju tujuan wisata unggulan, seperti Wae Rebo, Pulau Komodo, Ende, dan Larantuka.

Mengapa harus school hub?

Kami yakin betul, bentukan arsitektur harus selalu menjadi solusi masalah. Fokus masalahnya, bagaimana yayasan menjalankan sekolah ini mandiri. Namun, karena sekolah bersifat sosial, tentu uang dari sekolah tidak memungkinkan menjadi sumber utama pendanaan.

Sehingga tercetus gagasan agar sekolah ini tidak sekadar bangunan dan memiliki fungsi lebih dari sekadar instansi pendidikan, nantinya apa yang kami bangun bukan hanya gedung SMK, melainkan juga momentum untuk penyelesaian masalah di sana, potensi wisata, dan industri.

Jadi, dalam sekolah nantinya akan ada apa saja sih?

Ruang-ruang berupa plaza, aula dengan arsitektur yang baik untuk dapat dijadikan venue wisata. Aula bambu, plaza innercourt, amphitheater, dan lapangan olahraga multifungsi.

Bangunannya sendiri diharapkan dapat menjadi daya tarik sehingga dapat menjadi objek wisata yang mengusung tinggi lokalitas dan budaya setempat.

Untuk menunjang pendanaan bagi sekolah, juga akan ada ruang praktik, yang bisa dijadikan pematok standar kualitas pengelasan, bengkel, dan batako bagi masyarakat Ruteng. Untuk mendorong budaya membaca murid juga masyarakat, akan ada pula public rooftop library. Bangunan juga akan bersifat ramah lingkungan, dengan penggunaan panel surya, pemanfaatan air hujan, dan low energy building.

Material yang kalian pilih bambu Flores, ini juga upaya mengadopsi lokalitas?

Betul, bambu Flores juga merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia. Alasan lain, kesederhanaan konstruksi bambu, sehingga menciptakan proses yang melibatkan banyak orang sebagai upaya partisipasi masyarakat.

Penggunaan material lokal penting agar dapat menjadi bangunan yang memiliki keterkaitan dengan tempat di mana bangunan berdiri. Salah satu faktor terpenting, seberapa besar kita mengeluarkan energi untuk mendapatkan material tersebut. Bukan saja seberapa murah material tersebut, melainkan juga jejak karbon yang ditinggalkan.

Perjalanan SASO sendiri, bagaimana?

SASO sudah ada kurang lebih tiga tahun, tapi saya mulai bergabung penuh waktu mulai April 2015. Proyek awal kami mendesain hunian di Bali. Keberhasilan dalam beberapa sayembara yang saya ikuti menjadi modal awal untuk berkontribusi lebih dalam dunia arsitektur.

Saat ini kurang lebih sudah ada 20-an proyek yang kami tangani, dengan cakupan beragam, mulai pabrik, komersial, restoran, rumah tinggal, kantor, hingga sekolah.

Visi SASO rasanya terus berkembang. Namun, satu benang merahnya, mewujudkan mimpi para pengguna jasa kami dengan kaidah yang baik, kepedulian terhadap lingkungan, juga kepekaan terhadap budaya setempat. Semuanya harus tercipta melalui komunikasi dan kompromi-kompromi sinergis.

Beberapa kali kan dapat penghargaan di sayembara, bagaimana kamu memaknainya?

Award menjadi modal penting untuk saya terus melanjutkan karya arsitektur. Memenangi kompetisi adalah salah satu media terbaik bagi para arsitek untuk mendapatkan exposure terhadap apa yang telah dia kerjakan. Akhirnya penghargaan adalah tugas saya untuk menjadikannya pemacu dan momentum uktuk berkarya lebih lagi.

Agenda berikutnya?

Harapannya, biro kami bisa terus eksis dengan proyek-proyek yang relevan, memiliki tim yang solid untuk menjawab persoalan dan proyek-proyek seperti sekolah ini semakin banyak dan riil. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More