Mairiak Menyemai Kebersamaan

Penulis: Yose Hendra Pada: Minggu, 21 Jan 2018, 00:31 WIB Khazanah
Mairiak Menyemai Kebersamaan

MI/Yose Hendra

PANCARAN mentari di pengujung 2017 begitu melimpah, membias di lembah Pancuang Taba, kaki Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan. Cahaya keemasannya memantul di seng tua rumah-rumah penduduk. Memapar di padi yang tengah menguning.

Terik di pagi hari tidak menyurutkan kaki sekawanan petani di Pancuang Taba menari di atas bulir padi. Kaki-kaki kekar itu dengan lincah memilin onggokan padi yang baru saja dipotong. Padi luruh, menebar di atas terpal.

Sementara itu, tangan mereka menggenggam erat beruas-ruas bambu yang menjadi pegangan. Mereka tersebut tengah melakukan maiiriak, panen padi tradisional di ranah Minang. Secara terminologi, mairiak bisa didefenisikan sebagai cara merontokkan padi dari tangkainya pakai kaki.

Mulanya, padi yang sudah memasuki usia panen dipotong pakai sabit. Lalu, padi-padi tersebut dibawa ke petak sawah yang telah disiapkan untuk mairiak. Padi-padi itu diunggun, tidak jauh dari titik mairiak.

Satu per satu mereka yang terlibat mengambil padi yang beronggok dalam bentuk gulungan kecil yang bisa digenggam. Kemudian, di letak di atas terpal yang melantai di atas tanah atau permukaan sawah.

Setelah peletakan, kaki mulai bekerja, menari dengan ritme mengulang-ulang hingga padi rontok. Proses ini mungkin dipandang hanya metode memisahkan padi dari tangkai, membedakan dengan manongkang-- merontokkan padi dengan tangan pada wadah yang menyerupai kapal atau dengan mekanisasi. Mairiak lebih dari sekadar itu. Bermuatan gotong royong, hingga ruang berdialektika.

Hari itu, mairiak dilakukan di sawah Aprianto. Beberapa petani yang tergabung dalam Petani Organik Pancuang Taba (POPT) ikut mairiak berdasarkan mufakat hari sebelumnya. Sedari awal memang, kehadiran POPT yang didorong lembaga swadaya masyarakat (LSM) KKI Warsi sejak setahun terakhir, ingin menghidupkan kembali pola pertanian tradisional di Pancuang Taba.

Mereka belajar soal alam pertanian, termasuk lingkungan sekitar melalui Sekolah Lapang. Sekitar 22 peserta Sekolah Lapang saat ini menanam padi organic, tidak terkecuali Aprianto.

"Kita kembali menggelorakan Padi Sewai, varietas padi Pancuang Taba. Setidaknya dimulai dari anggota POPT," ujar Sekretaris Petani Organik Pancuang Taba (POPT) Hendrizal Sekolah Lapang bukan saja belajar tentang teori membudidayakan padi organic, melainkan juga menggali kembali nilai-nilai lokal dalam pertanian.

Anggota POPT juga didorong aktif dalam melakukan demonstration plot (Demplot) untuk mengejar produktivitas padi sawah. Setidaknya mulai menuai hasil. Sebagaimana pengakuan Walinagari Pancuang Taba Asrul Nurman, adanya Demplot yang dilaksanakan POPT dengan difasilitasi KKI Warsi, hasil panen padi di Pancuang Taba meningkat dari 4,5 ton per 1 hektare, menjadi 6,5 ton per hektare. Selain itu, diskusi-diskusi dalam Sekolah Lapang menggiring para petani membuka cakrawala soal pertanian ramah lingkungan. Pada akhirnya, kearifan lokal setempat kembali dihidupkan, salah satunya metode panen padi melalui mairiak.

Menyemai diskusi

Persisnya seperti lepau di Minangkabau, mairiak juga menjadi pusat informasi. Sirkulasi informasi dialirkan sehingga melecut mereka untuk terlibat dalam diskusi secara aktif seolah menjadi pengamat dadakan.

Sembari kaki menari, tangan menggenggam bambu untuk bertopang, mereka berbicara tentang politik pangan, pemasaran, kebijakan pemerintah, hingga persoalan pupuk dan hama.

Harpendra seorang pegiat padi organik mengatakan, mairiak merupakan cara panen padi di Minangkabau. Nyaris semua nagari-nagari di Minangkabau memanen padi dengan cara mairiak. Namun, hari ini tidak banyak lagi petani panen padi dengan mairiak. Petani di Pancuang Taba boleh dikatakan pelestari mairiak di tengah kecemasan kearifan ini mulai sulit ditemui.

"Mairiak dulunya menyeluruh di Minang. Biasanya dilakukan malam. Kenapa malam, karena memang disengajakan hari berlebih. Ini bukan hanya media bergotong royong, tapi juga menjadi ajang petani bercerita-cerita," terang Harpendra yang saat ini didaulat menjadi Sekretaris Perkumpulan Petani Organik Pancuang Taba.

Harpendra mengisahkan budaya mairiak di kampungnya, Sariak Alahan Tigo (Santiago), Kabupaten Solok. Pilihan malam, sebenarnya juga terjadi di beberapa kampung.

Bisa dipahami, pilihan malam, adalah waktu senggang diluar rutinitas kerja utama. Bagaimana pun, mairiak adalah panen secara giliran tanpa pengupahan. Tenaga yang dikorbankan tentu berbalas pada panen padi di sawah masing-masing yang terlibat. "Yang punya padi menyiapkan makanan, minuman kopi, dan kolak," ujarnya. Sementara itu, Koordinator Project KKI Warsi-Sumbar Riche Rahma Dewita mengatakan, mairiak merupakan tradisi bertani di Minang dahulunya, yang masih hidup di Pancuang Taba.

Warsi, sebutnya, melihat mairiak punya nilai sosial di masyarakat. Salah satu bukti ialah hidupnya model gotong royong. "Ini seperti arisan tenaga. Misal sekarang mairiak di sawah si A, besok sawah si B, dan seterusnya," bilang Riche.

Penyebutan mairiak kadang berbeda-beda di Minang. Ada juga yang menyebut baronde. Pengertiannya sama, yakni konsep membantu orang lain (panen). Dia melihat, mairiak bukan cuma arisan tenaga, melainkan tempat berkumpul dan saling tukar informasi.

Riche menilai, paradigma bahwa pertanian modern mestilah dengan mekanisasi, secara tidak langsung menjadi alat yang menghancurkan sistem tradisional. "Itu sebenarnya pemakaian alat teknologi mesin menganggu kestabilan nilai-nilai sosial. Menjadi modern tidak harus mekanik, tapi pada cara pandang, titik keluasan berpikir, dan cara bertukar informasi," tandasnya. Melihat mairiak menari-nari, harus dipahami sebagai dukungan pembangunan dan perekonomian di Pancuang Taba misalnya, tidak menghancurkan nilai lokal yang telah ada. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More