Menyanyi Setengah Badan

Penulis: Dony Tjiptonugroho/Redaktur Bahasa Media Indonesia Pada: Minggu, 21 Jan 2018, 03:01 WIB BIDASAN BAHASA
Menyanyi Setengah Badan

Dok. MI/Immanuel Antonius

SETELAH lama meninggalkan bangku pendidikan, saya tidak terlibat dalam upacara bendera dan kegiatan lain yang mengharuskan dinyanyikannya lagu kebangsaan Indonesia sekian lama. Pada akhir Oktober 2017, saya pun merasakan lagi dinyanyikannya Indonesia Raya.

Di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, dalam acara puncak Bulan Bahasa 2017, saya mendengar suasana baru saat dinyanyikannya Indonesia Raya. Penyebabnya ialah lagu yang dinyanyikan ialah lagu lengkap, atau populer disebut Indonesia Raya tiga stanza. Bukan cuma saya yang hadir di sana yang hanya bisa lantang menyanyi di awal, alias stanza pertama. Layar raksasa yang menyajikan stanza pertama hingga ketiga tidak mengurangi kecanggungan menyanyi saya--dan sebagian lagi yang seperti saya--di bagian stanza kedua dan ketiga.

Bagai mengalami kehidupan yang berbeda, saya sambil menyanyi membaca lirik di dua stanza yang saya sadari lagi kehadirannya. Kesan yang saya dapat selain doa dan janji dalam stanza kedua dan ketiga lagu itu ialah lamanya waktu bernyanyi. Doa dan janji bagus, tetapi lamanya waktu bernyanyi dalam sebuah upacara bendera itu yang tidak bisa saya lukiskan--saya sudah tidak lagi berada di sekolah.

Setelah itulah saya mendapat informasi, Kemendikbud mengeluarkan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 21042/MPK/PR/2017 bertanggal 11 April 2017 bahwa untuk implementasi penguatan pendidikan karakter di sekolah dasar dan menengah, lagu Indonesia Raya dinyanyikan saat upacara di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Lagu yang disosialisasikan untuk dinyanyikan ialah Indonesia Raya tiga stanza.

Lagu Indonesia Raya sejak awal memang terdiri atas tiga stanza. Namun, itu bagi saya hanya bagian dari sejarah karena pada praktiknya sejak duduk di sekolah dasar yang saya alami hanya Indonesia Raya versi satu stanza yang diulang-ulang dinyanyikan dan diperdengarkan.

Indonesia Raya versi satu stanza itu, kalau me­minjam ungkapan Mendikbud Muhadjir Effendy (Tribunnews.com, 3/8/2017), tidak utuh. Ibarat badan, itu hanya kepalanya. “Maknanya jelas beda, menyanyikan satu stanza ibarat hanya setengah badan.” Jadi, selama bertahun-tahun banyak orang Indonesia ‘menyanyi setengah badan’.

Sepertinya ada keputusan politik yang menjadikannya demikian karena Pasal 61 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan berbunyi 'Apabila Lagu Kebangsaan dinyanyikan lengkap tiga stanza, bait ketiga pada stanza kedua dan stanza ketiga dinyanyikan ulang satu kali’. Lagu kebangsaan dinyanyikan lengkap tiga stanza hanya opsi. Versi yang diutamakan untuk dinyanyikan ialah Indonesia Raya satu stanza.

Apa yang terjadi sekarang, gene­rasi muda yang masih sekolah diakrabkan dengan versi tiga stanza, sedangkan generasi di atas mereka digugah untuk mengingat kembali. Lebih mudah bagi generasi muda karena mereka masih punya jadwal upacara bendera.

Di luar dua generasi itu, penerapan menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza bisa juga menyulitkan tamu negara, acara-acara kenegaraan, dan kegiatan resmi lainnya berskala internasional, termasuk acara pengalungan medali dalam kegiatan olahraga.

Mengubah status Indonesia Raya tiga stanza dari fakta sejarah menjadi bagian kehidupan sehari-hari memang tidak mudah untuk sebagian kalangan. Apalagi, tanpa bermaksud menjadi tidak nasionalis, mereka tidak lagi berada dalam pusaran kegiatan yang mewajibkan dinyanyikannya lagu itu.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More