Puisi-Puisi Naya

Penulis: Fathurrozak Jek/M-1 Pada: Minggu, 21 Jan 2018, 04:31 WIB MI Anak
Puisi-Puisi Naya

Dok. Pribadi

Pagi cerah bel berbunyi

anak-anak masuk lapangan

Devi temanku, berjalan pelan

anak-anak lain berjalan di belakangnya.

Aku bosan terus berdiri.

Aku bosan, bosan sekali.

Tahu, enggak, Sobat Medi, yang baru kalian baca ialah petikan puisi berjudul Cerita tentang Sekolah. Nah, kira-kira siapa ya yang membuat puisinya?

Yuk kenalan! Kalau Sobat Medi juga suka dengan puisi, wajib kenalan sama teman kita, Abinaya Ghina Jameela. Meskipun masih sekolah dasar (SD), Naya, sapaan akrabnya, sudah menerbitkan buku kumpulan puisinya. Wah, makin keren aja nih Naya.

"Dulu itu Naya diajarin nulis sama Om Mimo, waktu itu Naya masih lima tahun," cerita Naya kepada Medi, Kamis, (18/1). Om Mimo merupakan panggilan Naya untuk Om Nermi Silaban, yang menulis buku puisi Bekal Kunjungan.

Perkenalan Naya dengan Om Mimo berlangsung ketika Naya bersama bundanya tinggal di Bandung. "Naya kenal Mimo waktu kami pindah ke Bandung pada 2014. Waktu itu Naya masih berumur 4 tahun 8 bulan. Saya dan Mimo punya beberapa kerja sama sehubungan dengan penelitian, kepenulisan, dan kegiatan literasi anak sehingga intensitas bertemu Naya dengan Mimo lumayan sering," cerita Tante Yona Primadesi, ibunda Naya.

Dari gawai ke puisi

Padahal, dulu Naya sempat, lo, kecanduan gawai. Sampai-sampai, ia ketiduran di depan televisi atau saat main ponsel. Namun, karena Om Mimo pulalah, Naya kini jadi 'diet' gawai. Menulis puisi-puisinya pun masih pakai pensil dan ditulis di kertas.

Di rumahnya sekarang, Yogyakarta, Naya juga enggak punya televisi. Naya lebih suka nonton film ke bioskop, yang akhirnya bisa menginspirasi karya-karya puisi sobat kita yang baru kelas dua ini.

Om Mimo awalnya mengajak Naya untuk bermain di luar ruangan karena latar belakang dia dari teater. Jadi, banyak permainan yang dilakukan, bahkan melukis, hingga akhirnya Naya minta belajar membaca dan menulis. "Naya kami sarankan untuk menulis semacam buku harian. Dulu kami memberi nama Jurnal Harian Naya. Dari menulis jurnal itulah kemudian terlihat ada yang berbeda dari daya ungkap Naya menulis," kenang tante Yona.

Buku puisi: Resep Membuat Jagat Raya

Sobat Medi juga bisa baca karya-karya puisi Naya dalam bukunya berjudul Resep Membuat Jagat Raya. Buku ini terbit awal 2017 dan sudah banyak yang mengapresiasi bahkan masuk nominasi 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Termasuk buku Bekal Kenangan karya mentor Naya yang turut serta dalam 10 besar nominasi. Dalam menulis, Naya memang terkadang juga merasa pusing, "Ha ha ha ha, Iya. Naya sering bilang, 'Bikin puisi itu susah, Bunda'. Jika ditanya bagian apa yang susah, dia akan jawab, 'Membuat metafora'. Kami tidak pernah memaksa Naya untuk menulis. Dia menulis ketika dia mau dan ingin menulis." Meski mengaku pusing, Naya bilang, "Tapi lama-kelamaan udah terbiasa sih. Enggak pusing."

Saat Naya mengalami kebuntuan dalam menulis, yang dilakukan Tante Yona ialah mengajaknya berdiskusi, bertanya mengapa, dan ada permasalahan apa. Dari diskusi, akan ada alternatif solusi.

Puisi lalu prosa

Meski menulis puisi, Naya tidak banyak baca puisi karya penyair lain. Itu memang menjadi aturan bundanya, juga mentor Naya, Om Mimo. "Naya memang kami (aku dan Nermi) batasi untuk mengonsumsi buku-buku puisi, bahkan kami larang dengan tegas. Kami ingin puisi Naya itu benar-benar murni dari dunia kanak-kanaknya, bukan karena pengaruh A atau B."

"Pernah suatu hari, dia membaca beberapa puisi dari buku puisi Afrizal. Setelahnya, dia menulis sebuah puisi yang gaya ungkapnya seperti Afrizal. Kalau aku tidak salah, judulnya Air Mata. Setelah kejadian itu, kami melarang Naya untuk membaca puisi atau buku puisi siapa pun. Kami lebih menganjurkan Naya untuk membaca karya prosa berupa novel, ketimbang puisi."

Dari buku Resep Membuat Jagat Raya yang sudah terbit, Naya juga kerap mendapat undangan untuk membacakan puisi di depan umum nih, Sobat Medi. Tak jarang Naya juga diminta untuk hadir sebagai narasumber dalam diskusi yang bertemakan literasi, dengan ditemani bundanya. "Kami ingin menciptakan lingkungan yang nyaman buat Naya. Jadi, ketika dia harus baca puisi, dia tidak merasa bahwa dia sedang diperhatikan, ditonton. Makanya di awal, kegiatan Naya masih seputar lingkungan yang akrab dengan Naya. Setelah Naya mulai terbiasa, sepertinya baca puisi di panggung tidak jadi masalah buatnya, sejauh ini. Dia masih terlihat asyik ketika baca puisi dan tidak takut. Malah emaknya yang sering cemas, he he." cerita tante Yona.

Tulis saja langsung

Setelah istirahat dari buku puisi pertamanya yang sudah terbit, dan rupanya sempat jenuh dengan menulis puisi, bahkan hingga enam bulan tak mau menulis satu bait puisi, kini Naya merambah ke karya prosa. Ia sedang menggarap karya keduanya berupa novel, nih, Sobat Medi. "Masih di bab tiga, aku mulai kerjain dari 2017 dan nantinya akan ada banyak bab," cerita Naya, dan masih merahasiakan akan berkisah seputar apa novelnya.

Kita doakan ya, Sobat Medi, semoga Naya bisa merampungkan novelnya, dan kita bisa menikmatinya bersama. Oh ya, Naya juga punya pesan nih untuk Sobat Medi yang mau menulis, "Kalau mau menulis, ya menulis aja. Enggak ada resep khusus. Juga harus banyak membaca. Menulis itu harus diulang-ulang dan harus sering." (M-1)

Resep Membuat Jagat Raya

Ambil sebutir proton

yang sangat kecil

lebih kecil dari pasir

lalu lempar ke tempat jauh

dan meledak lebih hebat

dari letusan gunung merapi

muncul jagat raya kosong

seakan rumah ditinggal penghuni

3 menit kemudian bumi dan

matahari dan planet-planet

dan meteor bermunculan

jatuh di bumi seringkali

tanpa ampun bumi kesakitan

menangis menjadi air laut

dan muncullah bulan

dari debu bumi dan aku tak bisa ke matahari dengan suhu sepuluh miliar derajat.

2016

Di Kebun Binatang

Di kebun binatang, para hewan

menunggu dengan kesepian,

bertahan untuk tidak lari,

mereka seperti penjahat, terpenjara.

Kura-kura berlumut seperti rumput laut

tumbuh di tempurungnya,

leher panjangnya muncul,

kura-kura itu berenang dengan bebas

tapi tidak sebebas saat mereka di laut.

Aku gembira, tapi para binatang

tak seperti perasaanku, gembira.

Mereka hanya menatap para pengunjung

yang melihat para tawanan berwajah sedih

meninggalkan keluarga dan

kuda nil kesepian di sebuah ruang tunggu.

Aku tidak tahu mereka hidup nyaman

atau tidak, aku juga tidak tahu mengapa

para manusia menangkap dan mengurung

mereka hanya untuk kesenangan.

2017

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More