Lumbung yang Mengalirkan Kehidupan

Penulis: Liliek Dharmawan Pada: Minggu, 21 Jan 2018, 11:15 WIB Jeda
Lumbung yang Mengalirkan Kehidupan

MI/BARY FATHAHILAH

JARING pengaman pangan itu, di kampung adat Bonokeling, Desa Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng), berwujud bangunan kayu dengan dinding kayu yang akan sesak dengan gabah-gabah tabungan warga saat panen dan menjadi lapang ketika paceklik terjadi. Namun, lumbung boleh saja kosong, tapi dapur terselamatkan dari gabah yang warga tabung atau pinjam.

"Lumbung pangan masih kami pertahankan untuk menjawab persoalan pada masa paceklik seperti sekarang," kata, Kunto, 48, warga Bonokeling tentang lumbung di dekat rumahnya, di RT03/RW02, yang dibongkar pada Desember lalu. Sebanyak 1,5 ton gabah didistribusikan pada warga.

"Saya meminjam sekitar 0,5 kuintal atau 50 kg. Sebab, saya tidak lagi memiliki stok karena musim paceklik. Jadi benar-benar sangat membantu," jelas Kunto. Nantinya, lanjut Kunto, mereka yang utang pangan dalam wujud gabah harus mengembalikan pada saat musim panen tiba. Bunganya disepakati 25%. Misalnya saja 50 kg dipinjam, maka nanti kalau mau mengembalikan ditambah 12,5 kg. Jadi secara total, harus mengembalikan 62,5 kg.

Menabung dan meminjam

Ketua Komunitas Adat Bonokeling Sumitro mengatakan, dari 6.000 penduduk di Desa Pekuncen, 2.000 di antaranya masyarakat adat Bonokeling yang masih kuat memegang adat. "Salah satunya lumbung pangan sehingga kalau RT yang didiami komunitas adat Bonokeling pasti memiliki lumbung pangan yang diisi padi kering. Sampai sekarang, ada 23 lumbung pangan yang masih bertahan karena hal itu tidak dapat dilepaskan dari adat kebiasaan komunitas Bonokeling sejak zaman nenek moyang," kata Sumitro.

Setiap lumbung memiliki kapasitas hingga 4-5 ton. "Pada waktu paceklik, warga mengambil tabungan padi untuk menghadapi musim paceklik, lazimnya di akhir tahun. Semuanya terlayani dengan baik berdasarkan mufakat. Misalnya siapa yang meminjam diprioritaskan untuk warga yang benar-benar membutuhkan, termasuk jumlah pinjaman," ungkap Sumitro.

Menurut Sumitro, sampai sekarang proses menabung di lumbung pangan dan pinjam meminjam padi masih tetap berlangsung. Adat semacam itu telah berlangsung sejak lama, ratusan tahun silam. "Warga komunitas adat Bonokeling tetap mempertahankan karena selain menghargai tradisi, padi yang merupakan bunga pinjaman bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lainnya. Di komunitas adat Bonokeling kan banyak sekali ritual, nah padi yang disimpan bisa untuk membantu kebutuhan ritual. Selain itu, bunga pinjaman padi tersebut dimanfaatkan untuk membiayai pembangunan desa, salah satunya membangun balai RT. Meski, yang paling utama tujuannya menghadapi masa paceklik," jelasnya.

Waktu membongkar padi tabungan di lumbung pangan juga disesuaikan waktunya. Pada umumnya, diambil atau dipinjamkan pada puncak paceklik ketika warga sudah tidak memiliki stok padi di rumah. "Perhitungannya, padi yang dipinjamkan atau diambil akan mampu memenuhi kebutuhan hingga saat panen tiba. Jadi, diharapkan warga tidak membeli gabah atau beras di luar, namun tetap dapat dicukupi dengan hasil panenan sendiri," kata Sumitro.

Tak melulu soal beras

Di sini, kearifan soal pangan bukan cuma soal gabah, melainkan juga diversifikasi pangan sehingga nasi bukan menjadi satu-satunya makanan pokok warga setempat. Bahkan, dulu masyarakat adat Bonokeling makan nasi hanya pada saat digelarnya ritual budaya. Sehari-harinya makan selain nasi seperti oyek dan gesret yang terbuat dari singkong. "Kalau sekarang memang makan nasi, tapi masih tetap menyimpan oyek di rumah masing-masing," ujarnya.

Masyarakat adat Bonokeling makan selain nasi, ada satu ritual puasa yang disebut ngrakeh. Puasa ngrakeh ialah puasa dengan pantang makan nasi. "Ritual ngrakeh dilaksanakan pada 10 hari menjelang 1 Suro berdasarkan kalender Jawa. Selama 40 hari, masyarakat adat Bonokeling makan selain nasi. Itulah mengapa, warga di sini masih menyimpan bahan-bahan pangan yang terbuat dari singkong. Salah satunya sebagai stok kalau ritual ngrakeh dilaksanakan," jelasnya. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More