Sedapnya Menyesap Robusta Lampung

Penulis: Eva Pardiana Pada: Senin, 22 Jan 2018, 11:00 WIB Kuliner
Sedapnya Menyesap Robusta Lampung

MI/EVA PARDIANA

"NGUPI pay!" Ajakan ngopi itu menjadi mantra yang menyatukan warga, terutama penikmat kopi di Lampung.

Secara kultur, warga Lampung akrab dengan kopi, dari belia hingga dewasa, baik perempuan maupun laki-laki.

"Kopi mempersatukan kami. Dari secangkir kopi, bertambah saudara dan teman. Yang semula tidak saling kenal dapat begitu dekat dengan kopi," ujar M Alghazali Qurtubi, pendiri Dr Coffee Lampung.

Setahun ia menyerap 1,2 ton biji kopi fine robusta dari petani Lampung yang kemudian dikemas dan disalurkan ke kedai-kedai di Bandar Lampung.

Alghazali konsisten mengangkat derajat kopi robusta lampung, salah satunya varietas mamaku lampung, yang kian tersisih oleh kopi instan pabrikan.

Ia optimistis, dengan memperpendek alur dari petani hingga ke penyuka kopi, kesejahteraan petani pun terdongkrak.

Fine robusta, sejajar arabika

"Suatu saat, ada teman bawa oleh-oleh kopi dari Prancis. Yang menarik, kopi itu berasal dari Lampung, tetapi dibeli di luar negeri lalu dibawa lagi ke Lampung. Lalu, kenapa bukan kita yang mengangkat kopi lampung?" ujar Alghazali.

Karena itu, sejak 2013 Alghazali mulai mencari terobosan agar robusta lampung dapat disejajarkan dengan kopi arabika yang dianggap lebih bergengsi dan kerap disajikan di kafe-kafe.

Perjalanan meriset mempertemukannya dengan teknik dan formula pengolahan biji pascapanen untuk menghasilkan cita rasa terbaik sehingga mendongkrak harga kopi petani.

Ia menyebutnya fine robusta.

"Fine robusta ini levelnya di atas premium. Kalau yang konvensional dipetik asal-asalan, masuk ke eksportir lalu dijual ke luar negeri, hanya dijemur, tidak ada pengolahan pascapanen, sedangkan fine robusta diproses dengan berbagai cara, di antaranya teknik honey, full wash, dan natural."

Kolaborasi dengan petani

Robusta yang semula berkarakter dasar pahit dan sedikit manis gula aren kini dapat dinikmati rasa bervariasi dan tingkat keasaman yang lebih tinggi.

"Robusta itu karakter dasarnya bitter, sedikit sweet gula jawa, acid atau asamnya 0%.

Nah, acid ini kemudian muncul karena yang dipetik hanya yang merah dan diolah dengan teknik yang sama seperti arabika," ujar sarjana pertanian itu.

Proses pengolahan pascapanen itu dibaginya pada kelompok petani di Ulubelu, Tanggamus, yang menjadi mitranya.

Berikutnya, pada petani di Air Hitam, Pagar Dewa, Fajar Bulan, Sumber Jaya, Ulu Belu, Sekincau, Liwa, dan Kebun Tebu.

"Tapi, baru Ulubelu yang mampu konsisten," kata Alghazali.

Jagoan baru di pabrikan

Lampung memang dikenal sebagai provinsi penghasil kopi robusta terbesar di Tanah Air.

Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Kopi Direktorat Jenderal Perkebunan mencatat, pada 2017, terdapat 137.875 hektare lahan perkebunan kopi robusta di Lampung yang tersebar di Kabupaten Lampung Barat, Tanggamus, Lampung Utara, dan Way Kanan.

Total yang dihasilkan 110.325 ton, atau 23,78% dari total produksi nasional sebesar 463.775 ton, pun menyumbang 72% ekspor kopi nasional.

Meski begitu, kesejahteraan petani belum terungkit maksimal.

Mereka terbiasa memetik asal-asalan dan serta-merta menjualnya pada tengkulak dan produsen dengan kisaran harga hanya Rp25 ribu per kilogram.

Jadi, keuntungan yang diperoleh tipis saja.

Potret muram petani di balik sesapan dari cangkir-cangkir kopi yang terhidang di Indonesia, pun seantero dunia, memacu Jamaludin, petani di Tanggamus, mitra Dr Coffee Lampung.

Ia bahkan rela mengeluarkan biaya sendiri untuk menghadiri aneka pameran, pun pertemuan-pertemuan komunitas untuk memperkenalkan biji kopi fine robusta hasil produksinya.

"Saya menolak menjual ke tengkulak dan pabrikan karena harganya yang terlalu murah. Dengan melakukan proses pascapanen, harganya mencapai Rp50 ribu per kilogram, 100% lebih mahal jika dibandingkan dengan asalan," ujar Jamaludin.

Ikhtiar menembus pasar

Meski dihargai layak, Jamaludin mengakui, pasarnya belum terlampau lebar. Pilihan menjual langsung kepada pemilik kedai juga bukan solusi karena terbatasnya daya serap.

"Sudah ada beberapa petani yang mau memetik biji kopi pilihan, lalu diolah sedemikian rupa, tapi harus kecewa karena tidak ada yang mau beli. Tetap kalau kopi petik asalan justru dicari pembeli," ujarnya.

Kuncinya, kata Jamaludin, pengetahuan, fasilitas, dan akses pasar.

"Selama ini petani seolah dilarang pintar dan tahu. Banyak yang menganggap petani tidak perlu tahu banyak karena tidak berpendidikan. Padahal jika diberi pengetahuan dan informasinya, didampingi, diajarkan manajemen keuangannya, pasti bisa," kata Jamaludin yang optimistis dengan konsisten berikhtiar menembus pasar, tiga sampai lima tahun mendatang, fine robusta bakal jadi berkah buat para petani dan tentunya meninggalkan aroma dan rasa nan sedap di cangkir pecinta kopi. (M-1)


 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More