Harapan dari Tanah Merah

Penulis: Fathurrozak Jek/X-7 Pada: Minggu, 28 Jan 2018, 06:00 WIB MI Anak
Harapan dari Tanah Merah

MI/Seno

DARI seberang lapangan yang kini tergenang air dan tanaman Eceng Gondok, sudah terdengar riuh suara anak-anak. Mereka sedang berada di bangunan bertuliskan Sanggar Anak Harapan, Tanah Merah, Jakarta Utara.

Jelang pukul 16.00 WIB, sekumpulan anak berkepala plontos sudah bersiap untuk berlatih tari. Sobat Medi berkesempatan ikut main bareng teman-teman di sanggar tersebut.

Nah, ternyata ada alasan menarik nih, Sobat Medi, terkait kenapa anak laki-laki rambutnya dicukur plontos semua. Menurut Kak Desboy, pengurus sanggar, awalnya itu sebagai bentuk solidaritas untuk penasehat sanggar yang sakit kanker, sehingga rambut dan alisnya rontok.

"Awalnya ya sebagai bentuk solidaritas. Ini sih awalnya pengurus. Eh, anak-anak pada mau ikutan, ya sudah jadi plontos semua," ungkap Kak Desboy, perintis Sanggar Anak Harapan.

Wah, salut ya, sama teman-teman kita di Sanggar Harapan nih.

Kak Diky dan Kak Fajar menjadi pengajar menari. Ada Rama Hidayatullah, Gresia Tesa Conika, dan Bunga Arindia Agustin dan banyak teman lainnya yang ikut menari. Mereka tampak ceria dan semangat, meski harus berkeringat. Malamnya, mereka belajar matematika. Jadi, sebelum pukul 18.00 mereka harus sudah mandi, meski kalau sudah di sanggar, enggan pulang.

"Hampir setiap hari waktunya banyak dihabiskan di sanggar. Padahal juga udah kita bikin aturan, mulai datang dan pulang jam berapa, tapi itu enggak berlaku. Ya sudahlah," cerita Kak Diky yang sekarang jadi Ketua Pengurus Remaja Sanggar Anak Harapan.

Kegiatan seperti menari membuat anak-anak bahagia. Itulah yang diungkapkan Rama Hidayatullah, siswa kelas 5 SD PKBM Himata.

"Senang ya. Nari itu bikin bahagia," ujarnya.

Sementara itu, Bunga mengatakan pada Desember lalu mereka habis pentas di Teater Luwes Institut Kesenian Jakarta (IKJ). "Pengen lagi, dan udah kayak artis banyak yang nonton," katanya sambil tertawa.

Ternyata, bangunan yang ditempati teman-teman Sanggar Harapan itu merupakan bangunan baru lo, Sobat Medi. Mereka baru menempatinya pada 2017. Sebelumnya, mereka berpindah-pindah tempat dengan mengontrak rumah petak. Dalam proses membangunnya pun semua dilakukan anak-anak, serta dibantu oleh dua tukang. Wah, keren ya proses dari teman-teman Sanggar Harapan! "Untuk pendanaannya, kita dibantu sama beberapa teman sanggar, dan ada donasi dari kitabisa.com," sambung Kak Diky.

Kak Desboy juga mengatakan sanggar juga mendapat bantuan pinjaman dari saudara dan keluarga.

Dari jalanan hingga kuliah

Awalnya sanggar itu dirintis Kak Desboy bersama teman-temannya yang menamai diri mereka sebagai Basis Tanah Merah (Bastam). Tinggal di suatu wilayah yang menurut cerita dari Kak Desboy bisa digolongkan sebagai wilayah yang keras.

Kak Desboy dan beberapa temannya juga tidak terhindar dari hal-hal yang negatif. Mereka juga turun ke jalanan untuk mencari uang. Namun, ada hal yang coba diubah Kak Desboy nih, Sobat Medi. Meski dia dan teman-temannya dicap jelek, Kak Desboy ingin suatu saat mereka bisa berbuat baik. Maka, pada setiap malam, sebagai kelompok Bastam, Kak Desboy mewajibkan seluruh anggota kelompok Bastam bertukar cerita.

"Dulu kita masih ngontrak rumah ukuran 2 x 2,5 meter, ada 25 anak yang tergabung di Bastam. Lambat laun, supaya kita enggak dicap jelek warga, kita memilih kegiatan yang mengandung unsur pendidikan," kenang Kak Desboy saat menceritakan perjalanan Bastam pada 2009 hingga akhirnya berubah menjadi Sanggar Anak Harapan di 2010.

Kak Desboy tetap memegang metode yang ia terapkan saat masih menjadi kelompok Bastam hingga kini jadi Sanggar Harapan. "Cerita aja sih, kita biarkan anak-anak ngobrol dan menceritakan imajinasi mereka, cita-cita mereka apa, tapi kita juga akan memberikan masukan kepada mereka, kalau sudah dirasa ada yang kurang pas dengan kenyataan."

Di sanggar, teman-teman kita juga belajar bagaimana menerapkan nilai-nilai antikekerasan lo, Sobat Medi. Melalui proses bercerita dan ngobrol, akan saling tukar pemikiran, jadi kalau ada yang belum paham, akan mengerti dari penjelasan teman lain, begitu pun, yang sudah mengerti tentang apa yang diajarkan, akan mencari cara bagaimana memberi tahu bagi yang belum memahami.

Kini selain menari dan belajar pelajaran yang ada di sekolah, mereka juga mulai menulis cerita. Sobat Medi bisa mengakses cerita-cerita teman sanggar di akun Instagram @berki.sah. Menurut Kak Desboy, Sanggar Harapan sudah seperti bagian dari dirinya. "Seperti nemu keluarga. Pesannya kepada mereka ya apa yang bisa dilakukan, ya lakukan. Berbuat baik kan enggak harus nunggu kaya, enggak harus di sanggar saja. Tetapi berbuat baik boleh dilakukan siapa saja, dan di mana saja."

Di sanggar, kini ada sekitar 10 anak yang menetap, sementara sisanya pulang ke rumah. Pengurus mengupayakan agar teman-teman yang tinggal di sanggar tetap bisa melanjutkan sekolah. Begitu pula yang pulang ke rumah. Sanggar pun menggalang donasi melalui program Koin Pendidikan. Nah, kamu juga bisa ikutan donasi untuk mereka lo, Sobat Medi! Kamu juga bisa berkunjung kok, ke Sanggar Anak Harapan, pasti akan disambut dengan ramah, seperti ketika Sobat Medi berkunjung, banyak yang langsung menyodorkan telapak tangannya untuk tos. Lokasinya, ada di RT 01/RW 04 Rawabadak Selatan, Tanah Merah, Jakarta Utara. Sementara itu, untuk kesehariannya, di sanggar juga membuka unit usaha seperti jualan pulsa, dengan dikelola pengurus. Dengan kemandirian Sanggar Anak Harapan inilah, kini salah satu kakak mereka ada yang sudah bisa kuliah.

Senangya ya... Ini juga menjadi harapan dari Kak Desboy dan kakak pengurus lain. "Anak-anak tetap bisa sekolah, karena dengan pendidikan, akan membuat hidup lebih baik dan menumbuhkan harapan untuk anak-anak." Kita doakan ya, Sobat Medi, semoga kelak teman-teman Sanggar Anak Harapan banyak yang berkuliah, atau meneruskan pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi. (X-7)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More