Tidak sekadar Menghibur

Penulis: Wan/M-4 Pada: Sabtu, 03 Feb 2018, 00:16 WIB KICK ANDY
Tidak sekadar Menghibur

MI/Sumaryanto Bronto

SELAMA ini penyandang tunanetra lekat dengan profesi juru pijat.

Demi mencukupi kebutuhan mereka, mereka tidak dapat mengandalkan banyak profesi.

Seperti juga Harjito, penyandang tunanetra yang mengalami gangguan penglihatan akibat kecelakaan saat remaja.

Fungsi kedua matanya berkurang akibat cedera saat bermain sepak bola.

Harjito yang saat itu duduk di bangku SMP memutuskan tidak melanjutkan sekolah.

Ia menjalani hari-harinya dengan berputus asa.

"Waktu pertama kali tidak melihat, saya tidak terlalu stres, tapi saat operasi kedua gagal baru mengalami frustrasi. Tapi lama-lama menyadari, aku harus bangkit, harus melupakan dan mungkin ini jadi nasib saya," kata Harjito.

Untuk mandiri dan bangkit dari keterpurukan, ia mengikuti sekolah pijat hingga memiliki panti pijat di rumahnya.

Namun kecintaannya pada seni tidak menghalangi dirinya untuk melestarikan budaya Jawa.

Bersama kawan-kawan sejawat Harjito menggagas kelompok ketoprak Tuntra Budaya di 2002.

Namun, sejak 2013 itu berganti nama menjadi Distra Budaya yang merupakan kepanjangan dari Disabilitas Netra.

Sesuai namanya, kelompok ketoprak ini beranggotakan para penyandang tunanetra dari seluruh daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ketoprak ini merupakan dedikasi para penyandang tunanetra untuk melestarikan budaya Jawa sekaligus pembuktian penyandang disabilitas pun dapat berkarya lebih dan tidak melulu memijat.

Harjito mengaku awalnya pun sangat sulit mengumpulkan mereka untuk bergabung.

Namun, berkat kegigihannya untuk maju, kini Distra Budaya telah pentas di beberapa ajang.

Dengan fasilitas seadanya, mereka semangat berlatih rutin setiap bulan, mulai berlatih dialog, gerakan tiap adegan, hingga mendendangkan tembang-tembang Jawa.

Awalnya, kegiatan Tuntra Budaya mengandalkan uang pribadi dari anggota.

Namun, kini mereka dibantu dari dinas sosial yang memberikan dana jika mereka mengajukan proposal kegiatan.

Dokumentasi

Kegigihan inilah yang menarik Wahyu Utami, sineas muda untuk melihat kehidupan mereka lebih dekat.

Berawal dari menyaksikan penampilan Distra Budaya, dosen yang akrab dipanggil Uut ini mengisahkan kehidupan para pemain dalam sebuah film dokumenter berjudul The Unseen Words.

"Pementasan itu berhasil menghibur saya, bagaimana orang yang tidak melihat bisa menghibur sehingga saya mempertanyakan apa yang sudah saya lakukan untuk menghibur orang banyak, yang mereka lakukan sungguh luar biasa sebagi seorang manusia," ucap Uut.

Meskipun sederhana, spirit untuk menghibur ini membuat Uut melihatnya dengan kacamata lain.

Ia tidak merasa kasihan, bahkan Uut ingin menggali dan belajar dari mereka.

Bersama timnya Uut melakukan penelitian sejak 2016. Kisah para pemain Distra Budaya pun telah mengubah cara pandangnya akan sebuah kehidupan.

Ia berharap semangat yang diberikan Distra Budaya dapat menyebar untuk banyak orang.

Tak disangka, film berdurasi 27 menit ini berhasil meraih penghargaan sebagai film dokumenter pendek terbaik di ajang FFI 2017 lalu.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More