Deteksi Dini Kanker pada Perempuan

Penulis: Eni Kartinah Pada: Rabu, 07 Feb 2018, 13:00 WIB Kesehatan
Deteksi Dini Kanker pada Perempuan

KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR

ORGAN-organ reproduksi menjadi salah satu bagian penting bagi kaum perempuan. Namun, banyak hal bisa mengancam kesehatan organ reproduksi itu. Termasuk kanker, penyakit yang hingga kini masih identik dengan kesan menakutkan.

Sangat penting bagi kaum perempuan untuk mengenali gejala dan melakukan deteksi dini kanker yang menyerang organ reproduksi seperti indung telur (ovarium), rahim, leher rahim, serta payudara. Sebab, prinsip pengobatan kanker ialah semakin dini ditemukan dan diobati, semakin besar peluang keberhasilnnya.

"Karena itu, kaum perempuan perlu mengenali faktor risiko kanker organ reproduksi dan gejalanya. Serta tidak ragu untuk segera berobat bila menemukan tanda-tanda yang mengarah pada kanker, jangan menunda-nunda," ujar dokter konsultan kanker kandungan dari RS Hermina Bekasi, Jawa Barat, dr Toto Imam SpOG (K) Onk, pada seminar tentang deteksi dini dan pencegahan kanker. Seminar itu digelar RS Hermina Bekasi bertepatan dengan Hari Kanker Sedunia, Minggu (4/2), bagi masyarakat awam.

Dalam presentasinya, Toto menunjukkan sejumlah kasus kanker ovarium dan kanker rahim yang ditanganinya. Pada kasus yang parah, kanker itu membuat perut penderita membesar seperti tengah hamil.

"Kanker merupakan sel abnormal yang berkembang biak tidak terkendali sehingga terus membesar. Rahim yang normal panjangnya sekitar 5-7 cm, tapi karena kanker yang tumbuh di dalamnya, bisa membesar sampai diameter 30 cm. Indung telur juga, normalnya hanya 3 cm. Tapi pernah saya menangani pasien yang ketika diangkat berat ovariumnya sampai 15 kg," tutur Toto.

Pun demikian dengan kanker serviks. Bagian leher rahim yang normalnya mulus dan licin, menjadi tidak beraturan karena sel-sel kanker serviks yang terus tumbuh tak terkendali. Bagian tersebut mudah terluka dan berdarah. Karena itu, salah satu tanda kanker serviks ialah berdarah seusai berhubungan seksual.

Untuk mencegah keparahan-keparahan itu, lanjut Toto, kaum perempuan dianjurkan untuk menjalani upaya deteksi dini. Jadi, seandainya ada kanker, bisa ketahuan lebih awal guna sehingga penanganannya lebih mudah.

Untuk kanker ovarium, deteksi dini dilakukan dengan pemeriksaan klinis oleh dokter, USG, dan penanda tumor (tumor marker). Kanker rahim dideteksi dini dengan pemeriksaan klinis oleh dokter, pap smear, USG, dan mikrokuret.

Adapun untuk kanker serviks, deteksi dini dilakukan dengan pemeriksaan papsmear. Selain itu, kata Toto, kanker serviks juga bisa dicegah dengan vaksinasi HPV (human papilloma virus).

"Kanker serviks merupakan satu-satunya kanker yang sudah dipastikan penyebab utamanya, yaitu infeksi HPV. Vaksinasi ini bermanfaat menangkal virus tersebut. Vaksinasi HPV bisa diberikan pada perempuan sejak usia 10 tahun," terang dia.

Kanker payudara
Pembicara seminar lainnya, dokter spesialis bedah konsultan bedah onkologi, dr M Yadi Permana, SpB (K) Onk memaparkan serba-serbi kanker payudara. Salah satu gejalanya ialah timbul benjolan pada payudara. Karena itulah kaum perempuan dianjurkan untuk rutin mempraktikkan pemeriksaan payudara sendiri (sadari).

Sadari dilakukan dengan meraba seluruh bagian payudara hingga ketiak dengan saksama untuk mendeteksi adanya benjolan atau perubahan lain yang mencurigakan pada payudara. Namun selain sadari, perempuan juga sangat dianjurkan untuk rutin menjalani sadanis, yakni pemeriksaan payudara secara klinis oleh dokter.

"Data penelitian menunjukkan sadari dapat mendeteksi 50% kasus kanker payudara. Tapi, sadanis oleh dokter dapat mendeteksi sampai 85% kasus kanker payudara," terangnya.

Persentase keberhasilkan deteksi dini itu bertambah dengan pemeriksaan mammografi yang bisa mendeteksi 90% kasus kanker payudara dan pemeriksaan biopsi yang dapat mendeteksi 91%. "Bila ketiga pemeriksaan dilakukan, sadanis, mammografi, dan biopsi, kanker payudara bisa terdeteksi dini hingga 99,5%."

Pada kesempatan itu Yadi juga memaparkan saat ini kasus kanker terus meningkat. Di RS Hermina Bekasi, misalnya, jumlah pasien kemoterapi terus bertambah. Dari 36 pasien pada 2015, menjadi 828 pasien pada 2016, dan meningkat jadi 1.361 pasien pada 2017. "Bisa jadi hal itu karena faktor risiko di masyarakat juga meningkat," katanya.

Karena itu ia mengingatkan agar masyarakat menjauhi faktor risiko kanker. Untuk kanker payudara, faktor risiko itu antara lain berat badan berlebih, penggunaan alat kontrasepsi hormonal seperti pil, suntik, dan implan KB, menjalani terapi sulih hormon setelah menopause, tidak pernah menjalani kehamilan lengkap (full term), tidak pernah menyusui, dan usia saat pertama kali hamil lebih dari 35 tahun. (H-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More