Media yang Mencerahkan Kian Langka

Penulis: Usman Kansong Pada: Kamis, 08 Feb 2018, 11:52 WIB Humaniora
Media yang Mencerahkan Kian Langka

Menteri Keuangan Sri Mulyani -- ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

MARAKNYA pers digital dan media sosial dewasa belum dibaringi dengan meriahnya diskusi yang mencerdaskan.

Penilaian tersebut dikemukakan Menteri Keuangan Sri Mulyani saat menjadi pembicara utama di Konvensi Nasional Media Massa dalam rangka memeringati Hari Pers Nasional (HPN) 2018 di Padang, Sumatra Barat.

“Media yang merangsang intelektualitas dan diskusi yang mencerdaskan semakin langka,” kritik Sri Mulyani.

Kondisi itu, menurut Sri Mulyani, berbeda dengan situasi ketika surat kabar, televisi, dan radio, menjadi rujukan utama informasi. “Di media konvensonal terjadi diskusi yang mencerahkan, ada cover both side, sehingga orang terbiasa menghormati dan menoleransi perbedaan pendapat,” ujarnya.

Dengan berkembangnya media daring dan media sosial orang cenderung mencari informasi yang sesuai dengan atau mengonfirmasi pandangannya saja. “Tidak ada konversasi, yang ada justifikasi,” ucap Sri Mulyani.

Siapa pun, lanjut Ani (panggilan akrab Sri Mulyani), bisa memproduksi berita dan mendistribusikannya. Akan tetapi, isinya seringkali berupa hoax, bersifat provokatif, partisan, parsial, menyudutkan kelompok lain, termasuk pemerintah.

Menurut Ani, persoalan semacam itu bisa dipulihkan bila pers di Indonesia mengedepankan etika. “Kita harus kembali ke sifat dasar yang tak pernah lekang yaitu kejujuran, integritas, kemanusiaan, etika. Ini tantangan berat,” pungkasnya.

Hal senada dikemukakan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PWI Hendry Chairudin Bangun bahwa media mainstream (arus utama) harus bisa membentengi generasi milenial agar terjauh dari hoax yang beredar pada era digital saat ini.

"Media harus memberikan ruang kepada generasi milenial agar mampu membedakan berita yang benar dan hoaks. Jangan sampai mereka menganggap seluruh berita yang ada di media sosial benar," ujarnya saat diskusi publik tentang "Jurnalisme Media Publik di Era Milenial" dalam rangkaian kegiatan HPN 2018 itu.

Menurutnya bentuk ruang yang diberikan kepada kaum milenial ini seperti penyajian berita yang menarik dan sesuai dengan selera mereka. "Inilah menjadi kegalauan media mainstream saat ini dalam menghadapi kaum milenial karena mereka berbeda dengan generasi yang terdahulu. Mereka menginginkan sesuatu yang instan," tambahnya.

Ia mengatakan generasi milenial suka dengan informasi yang mereka dapatkan baik di media sosial namun kelemahannya mereka langsung percaya dengan berita tersebut.

Dalam hal ini media berperan dalam membentengi generasi muda agar tidak terjerumus mengonsumsi hoaks dengan cara memberikan berita yang benar, sesuai dengan aturan jurnalistik yang ada.(Ant/OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More