Korut Gelar Parade Militer Jelang Olimpiade

Penulis: Irene Harty Pada: Kamis, 08 Feb 2018, 20:37 WIB Internasional
Korut Gelar Parade Militer Jelang Olimpiade

AFP PHOTO

KOREA Utara (Korut) menggelar parade militer di Pyongyang, Kamis (8/2), untuk memperingati 70 tahun angkatan bersenjata mereka.

Parade tersebut menjadi bukti perubahan peringatan militer Korut yang pada Januari lalu disebutkan bakal dilakukan pada 8 Februari, dari sebelumnya 25 April.

Rudal balistik antarbenua dipamerkan dalam parade yang berlangsung hanya sehari sebelum Olimpiade Musim Dingin dibuka di Korea Selatan (Korsel).

Korut yang berpartisipasi dalam olimpiade mengirimkan rombongan atlet, ratusan cheerleader perempuan dan saudara perempuan Presiden Kim Jong Un ke Korsel.

Namun resimen tentara masuk dalam formasi melalui Kim Il Sung Square, diikuti oleh truk, artileri, tank, dan akhirnya empat ICBM Hwasong-15 raksasa serta sebuah band yang membentuk huruf Korea untuk Victory.

Kembang api dinyalakan saat Kim Jong Un mengambil tempat di mimbar untuk menonton bersama istrinya Ri Sol Ju, dan Kepala Pemerintahan seremonial Kim Yong Nam, yang akan memimpin delegasi Pyongyang ke olimpiade pada Jumat (9/2).

Kim Yong Nam dijadwalkan akan bertemu dengan Presiden Korsel Moon Jae-In dalam acara makan siang keesokan harinya.

"Kami ... mampu menampilkan perawakan kami sebagai kekuatan militer kelas dunia ke seluruh dunia," kata Kim yang mengenakan mantel hitam panjang dan fedora hitam.

Dia menambahkan, militer harus tetap sangat waspada untuk memastikan musuh tidak melanggar kedaulatan Utara 'meskipun hanya 0,001 mm'.

"Panjang umur!" teriak tentara yang berkumpul dalam suhu di bawah titik beku. Bahkan beberapa di antaranya menangis saat melihat pemimpinnya.

Berbeda dengan parade sebelumnya pada April 2017, televisi pemerintah tidak menayangkan secara langsung tapi beberapa jam kemudian. Korut juga biasanya mengundang ratusan wartawan asing untuk memamerkan parade ke seluruh dunia tapi tidak untuk kali ini.

"Sepertinya Korea Utara memikirkan potensi reaksi dari masyarakat internasional dan melonggarkan skala dan pesan acara ini," tukas Lim Eul-Chul, profesor studi Korea Utara di Universitas Kyungnam.

Analis juga melihat adanya pendekatan ganda dengan Korut ingin menormalkan statusnya sebagai 'negara nuklir de facto', dan mencoba melemahkan sanksi untuknya atau membuat hubungan Korsel dan Amerika Serikat berjarak.

Korut dikenakan beberapa set sanksi Dewan Keamanan PBB atas senjata nuklir yang dilarang dan program rudal balistiknya yang mampu mencapai daratan AS.

Sementara itu, Wakil Presiden AS Mike Pence tiba di Korsel pada saat parade berlangsung dan menghadiri upacara pembukaan di Pyeongchang pada Jumat (9/2).

Akan tetapi, pejabat senior Kementerian Luar Negeri Korut Cho Yong Sam mengatakan, Korut tidak berniat untuk bertemu dengan otoritas AS tersebut.

Kendati demikian, dia berkata, "Ada kemungkinan untuk melakukan pertemuan dengan orang Korut, informal atau dalam pertemuan. Kita harus menunggu dan melihat dengan tepat bagaimana hal itu terjadi."

Olimpiade musim dingin dengan cepat menghangatkan perdamaian di semenanjung Korea. Namun para analis memperingatkan hubungan hangat itu mungkin tidak berlangsung lama setelah olimpiade berakhir.

Kritikus Korsel mengungkapkan pemerintahnya membuat terlalu banyak konsesi ke Pyongyang, hingga demonstrasi terjadi menolak kedatangan rombongan seni awal pekan ini.

Utusan AS ke Seoul Marc Knapper menolak kekhawatiran serangan ofensif Utara ke arah Selatan. Sebaliknya, kedatangan Korut akan mengirim pesan yang kuat untuk mengembangkan masyarakat atas pilihan tepat pemimpinnya.

"Semakin banyak orang Korea Utara yang bisa datang ke sini dan melihat betapa suksesnya Selatan menjadi lebih baik," tukasnya. (AFP/OL-4)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More