Becak Dibatasi malah Membengkak

Penulis: Gana Buana Pada: Jumat, 09 Feb 2018, 10:04 WIB Megapolitan
Becak Dibatasi malah Membengkak

Becak mangkal di kawasan Petak Sembilan, Jakarta Barat, Selasa (16/1)---MI/Ramdani

DIKELILINGI pemikir andal dengan jumlah besar (73 ­orang) yang bernama Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP), ­Gubernur Anies Baswedan belum juga luwes menyikapi setiap masalah di Jakarta.

Masalah becak, misalnya, justru dilema dan menjadi meme di media sosial. Ada meme menyebut: punya 73 anggota TGUPP, hasilnya cuma becak. Tragisnya, masalah becak pun bukannya tuntas, justru semakin membara.

Meski Anies mengatakan akan membatasi pada kisar­an 400-an, ternyata sepekan ­setelah pernyataan itu jumlah becak telah lebih dari ­1.200-an.

Anggota Serikat Tukang Becak, Rasdulah, mengaku data di Suku Dinas Perhubungan Jakarta Utara mencatat sekitar 1.290.

Jumlah itu belum dikunci karena masih ada lagi yang belum terdata. “Sekarang masih pendataan, jangan ditanya-tanya dulu,” tukas Rasdulah kepada Media Indonesia, kemarin sore.

Jumlah 1.290 yang diungkapkan Rasdulah merupakan tukang becak yang beroperasi di kawasan Jakarta Utara saja. Belum termasuk kawasan Tambora, Jakarta Barat, dan wilayah Jakarta Timur.

Pebecak Jakarta Utara beroperasi di 12 pangkalan, di antaranya Bandengan, Tanah Pasir, Tanah Merah, dan Gedung Panjang. Rasdulah meyakini ribuan tukang becak tersebut bukan pendatang. “Ini asli dari sini kok, bukan ­musiman,” cetusnya singkat.

Sebelumnya, Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyatakan telah mendata pebecak yang jumlahnya hanya 400-an. Pihaknya akan membatasi hanya 500 saja sesuai instruksi Anies. Di luar dugaan, ternyata di Jakarta Utara saja sudah berjumlah ribuan.

Anies enggan menjawab pertanyaan seputar jumlah becak yang terus membengkak. Begitu juga ketika ditanya apakah akan dibuatkan Pergub karena pengoperasian becak melanggar Perda No 5/2014 tentang Moda Transportasi dan Perda No 28/2007 tentang Ketertiban Umum yang melarang pengoperasian becak, Anies mengatakan, “Nanti saja, tunggu diumumin.”

Wali Kota Jakarta Utara ­Husein Murad juga menghindar terkait dengan jumlah becak yang mencapai ribuan di wilayahnya. “Nanti saya cek,” katanya singkat. Pihak Dinas Perhubungan DKI tidak merespons konfirmasi.

Anak sekolah
Pemantauan di bawah kolong Jembatan Bandengan, Jakarta Utara, tampak belasan tukang becak berjejer di pinggir jalan. Kendaraan mereka memakan badan jalan yang seharusnya untuk jalur motor. Bahkan terkadang roda belakang becak mengganggu warga yang melintas di trotoar.

Pebecak yang belum kebagian penumpang menggunakan kesempatan untuk beristirahat. Suara dengkuran terdengar keras menunjukkan betapa nyenyaknya dia terlelap.

Yudi, salah satu pebecak asal Pemalang, Jawa Tengah, mengaku dirinya tengah menunggu jam pulang sekolah pukul 15.00 WIB. Ia punya langganan seorang anak SD Negeri 06 Penjaringan, Jakarta Utata. “Saya nungguin anak sekolah. Belum dapat sewa sejak pagi,” ungkapnya.

Yudi sehari-hari mangkal di bawah kolong jembatan Bandengan. Ia kerap menunggu penumpang yang hendak pulang ke rumah dari Pasar Cipluk, Penjaringan, Jakarta Utara. Selain itu ia menerima jasa pengantaran barang belanjaan dari pasar ke rumah.

Yudi bekerja sebagai tukang becak sejak 28 tahun lalu. Waktu itu, kendaraan bermotor dan angkutan kota masih langka. Kondisi itu membuat pendapatan tukang becak cukup baik.

Hanya dalam lima tahun, ia mengaku tabungan penghasil-annya cukup untuk membeli beberapa petak tanah dan membangun rumah di kampungnya. Namun, memasuki tahun 2000-an, jumlah kendaraan bermotor semakin bertambah dan persaingan terasa berat.

Hariyono, rekan Yudi, juga berharap dari penumpang anak sekolah dengan bayaran mingguan. “Kadang ada juga penumpang kasi Rp30 ribu. Kalau anak sekolah Rp70 ribu per minggu untuk antarjemput,” tandasnya.

Sekalipun saat ini penghasilan mereka sangat minim selaras dengan maraknya ojek daring, Yudi maupun Hariyono belum ada rencana pulang kampung. Mereka akan mencoba bertahan sebab mengganggap Jakarta tetap lebih menjanjikan ketimbang kembali ke desa. (J-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More