Industri Kakao Memprihatinkan

Penulis: Antara Pada: Jumat, 09 Feb 2018, 14:39 WIB Ekonomi
Industri Kakao Memprihatinkan

MI/Amiruddin Abdullah

DALAM tiga tahun terakhir, industri kakao di Tanah Air menunjukkan kondisi yang kian memprihatinkan. Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo) Soetanto Abdoellah mengungkapkan, pada tahun lalu, total impor biji kakao mencapai 200 ribu ton. Jauh meningkat dari 2016 yang hanya sebesar 110 ribu ton. Bahkan, pada tahun-tahun sebelumnya, rata-rata impor biji kakao hanya 70 ribu ton.

Melonjaknya impor biji kakao tidak terlepas dari minimnya produksi di dalam negeri. Ia menyebutkan, sepanjang 2017, produksi biji kakao hanya sebesar 400 ribu ton. Perbedaan data yang disuguhkan pemerintah dan Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) juga menjadi persoalan yang urung terselesaikan. Kementerian Pertanian mengklaim produksi kakao pada tahun lalu sebesar 688 ribu ton, berbeda jauh dari data Askindo yang hanya mengeluarkan angka sebesar 350 ribu ton.

“Angka itu ada macam-macam, kami agak susah juga tentukan. Tetapi kalau Dekaindo, kami hitung sendiri, dasarnya penghitungannya dari angka ekspor dan impor yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS). Jumlah ekspor yang dikonversi ke biji dikurangi jumlah impor yang juga dikonversi ke biji, kemudian ditambah perkiraan konsumsi dalam negeri ditambah biji kakao yang jelek yang tidak diekspor dan tidak tercatat BPS, jumlahnya itu sekitar 400 ribu ton,” jelas Soetanto di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (9/2).

Namun, menggunakan data manapun, semua jumlah yang dikeluarkan masing-masing pihak itu masih berada di bawah kebutuhan kapasitas industri terpasang di Indonesia. Saat ini, industri dalam negeri membutuhkan sekitar 800 ribu ton biji kakao per tahun.

Maka dari itu, ia meminta pemerintah untuk serius dalam meningkatkan kinerja produksi kakao, baik dengan intensifikasi maupun ekstensifikasi, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga angka impor dapat dikurangi.

Saat ini, tercatat total luas lahan kebun kakao hanya 1,2 juta hektare (ha), turun dibandingkan tiga tahun sebelumnya yang masih seluas 1,6 juta ha. Luas lahan yang semakin berkurang diperparah dengan banyaknya tanaman yang sudah rusak dan tua.

Tahun ini, lanjutnya, sedianya pemerintah memiliki program peremajaan tanaman kakao namun angkanya belum begitu besar.

“Secara genetik, tanaman kakao itu masa produktifnya 20 tahun. Setelah itu harus sudah diganti. Jadi, jika luas lahan 1,2 juta ha, penghitungannya setiap tahun harus ada 5% dari total luas lahan yang diremajakan, berarti 50 ribu ha per tahun. Sekarang jumlahnya masih jauh di bawah itu,” ucapnya.

Selama ini, sambungnya, angka peremajaan tanaman kakao tertinggi yang dilakukan pemerintah adalah 25 ribu per tahun. Itu pun tidak dilakukan secara berkesinambungan sehingga tidak mampu mendongkrak produksi secara signifikan.

“Untuk tahun ini ya, kalau optimis, angka produksi sama seperti tahun lalu. Sebenarnya ada ramalan turun faktor peralihan lahan garapan dari kakao ke tanaman lainnya seperti kelapa sawit, padi dan jagung. Iklim yang tidak menentu juga menjadi faktor lainnya. Sekarang iklim belum baik, masih basah, banyak hujan, banjir, itu yang jadi masalah. Kalau banyak hujan kakao bunganya tidak jadi, kalaupun jadi buahnya busuk,” tandasnya.

Deputi II Bidang Pertanian dan Pangan Kemenko Perekonomian Musdalifah tidak membantah lesunya kinerja kakao di dalam negeri. Ia mengungkapkan, produksi yang dihasilkan petani hanya sekitar 0,4 ton per ha. Padahal, jika dimaksimalkan, hasil yang dapat dicapai bisa hingga 0,7 ton per ha. (OL-7)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More