Investigasi Pembunuhan Warga Rohingya, Wartawan Reuters Ditangkap

Penulis: Haufan Hasyim Salengke Pada: Jumat, 09 Feb 2018, 21:18 WIB Internasional
Investigasi Pembunuhan Warga Rohingya, Wartawan Reuters Ditangkap

AFP

DUA wartawan kantor berita Reuters yang ditahan selama dua bulan oleh pemerintah Myanmar, ditangkap karena menyelidiki kasus pembantaian 10 orang Rohingya.

Hal itu diungkapkan Reuters dalam sebuah laporan yang menjelaskan pembunuhan mengerikan tersebut.

Ini adalah pertama kalinya Reuters secara terbuka mengonfirmasi apa yang dikerjakan warga negara Myanmar Wa Lone, 31, dan Kyaw Soe Oo, 27, ketika mereka ditangkap pada 12 Desember di pinggiran Yangon.

Mereka sekarang menghadapi hukuman 14 tahun penjara, dengan tuduhan memiliki dokumen rahasia yang melanggar Undang-Undang Rahasia Resmi era kolonial.

Pada Kamis (8/2), Reuters menerbitkan sebuah laporan yang menjelaskan bagaimana tentara Myanmar dan penduduk desa Buddhis mengeksekusi 10 orang Rohingya di Desa Inn Dinn, Rakhine, pada 2 September 2017 sebelum membuang mayat mereka ke dalam sebuah kuburan massal.

"Penyelidikan Reuters atas pembantaian Inn Din adalah yang mendorong polisi Myanmar menangkap dua dari reporter kantor berita tersebut," kata laporan tersebut.

Laporan tersebut didasarkan pada kesaksian dari penduduk desa Buddhis, petugas keamanan, dan saudara laki-laki yang dibunuh. Itu termasuk foto-foto grafis para korban, tangan terikat berlutut di lantai sebelum dibunuh.

Kondisi mereka telah memicu kekhawatiran global akan keamanan yang melemahkan kebebasan pers di Myanmar, dan upaya pemerintah untuk membatasi pelaporan di Negara Bagian Rakhine. Ini sebuah wilayah yang dilanda krisis tempat tentara dituduh melakukan kampanye pembunuhan massal, dan pembersihan etnis terhadap Muslim Rohingya.

Hampir 700.000 orang Rohingya telah meninggalkan daerah itu sejak Agustus lalu, membawa cerita tentang kekejaman yang dilakukan pasukan keamanan Myanmar dan kelompok main hakim sendiri di negara mayoritas Buddhis itu.

Pemerintah Myanmar menolak tuduhan tersebut, namun memblokade akses ke utara Rakhine, dengan melarang media independen mengakses daerah yang dilanda konflik.

Sebulan setelah penangkapan wartawan, tentara Myanmar mengeluarkan sebuah pernyataan langka yang mengakui pasukan keamanan ikut dalam pembunuhan di luar proses hukum terhadap 10 orang Rohingya yang dituding teroris di Desa Din Din. (AFP/OL-4)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More