Mata yang Sama Pacu Percaya Diri

Penulis: Ferdian Ananda Majni Pada: Sabtu, 10 Feb 2018, 03:01 WIB KICK ANDY
Mata yang Sama Pacu Percaya Diri

MI/Sumaryanto Bronto

SELALU ada hikmah dari cobaan yang menimpa seseorang. Tinggal bagaimana kita menyikapi dan bangkit dari keterpurukan itu.

Itu yang dilakukan pasangan Riswan Ilyasin Ahmad dan Desy Pujiarsi terpaksa merelakan mata anaknya, Falisya, karena kanker mata.

Saat pertama kali Falisya divonis retinoblastoma usianya baru satu bulan. Menurut Desy, isi kanker dalam mata sudah 50 % lebih. Bahkan, saat diangkat, kanker yang menyerang mata anaknya hampir 90%.

Kala itu Falisya yang baru berusia dua bulan harus menjalani operasi pengangkatan mata kanan di salah satu rumah sakit di Indonesia. Para dokter lalu mengganti mata anak mereka dengan mata palsu. Sayangnya, tubuh Falisya merespons negatif akan mata palsu itu sehingga ia harus berganti-ganti mata palsu.

"Mata palsu yang diberikan dokter itu selalu bermasalah, mata Falisya sering mengeluarkan kotoran yang berlebihan, awalnya dokter bilang normal, tetapi kami khawatir," kata Riswan.

Tidak puas dengan kondisi itu, Riswan pun mencari tahu tentang membuat mata palsu atau protesa mata melalui internet. "Setelah berganti-ganti okularis dan tak juga mendapatkan hasil terbaik. Anak-anak harus ganti okularis setiap 2-6 bulan, karena masih masa pertumbuhan. Akhirnya saya belajar secara otodidak selama 2 tahun, saya mencari-cari okularis andal melalui internet," sebutnya.

Tidak berhenti di situ, mereka mengirimkan surel ke beberapa okularis di luar negeri. Namun, hanya satu yang merespons, yakni John Pacey-Lowrie dari Inggris. "Ia bertanya tujuannya belajar membuat mata palsu. Lalu ia ingin membantu, saya yang datang ke sana atau sebaliknya. Dengan beberapa pertimbangan, ia berkunjung ke Indonesia," ceritanya.

Selama dua pekan John di Indonesia, Riswan belajar membuat protesa mata dengan benar. Kini, Riswan ahli membuat mata palsu sehingga mata palsu untuk anaknya tidak bermasalah lagi. Tidak terlepas, dari bahan akrilik berkualitas tinggi yang diimpor langsung dari Inggris.

Ketekunan Riswan semakin membuatnya cakap membuat mata palsu yang sangat mirip dengan asli. Tidak hanya untuk putrinya, tapi juga orang lain. Atas saran John, Riswan membuat Klinik Mata Palsu Ilyarsi Okularis. Pada penanganan pasien pertama, pria lulusan sarjana hukum itu masih didampingi John.

Gratis

Sebagai ungkapan syukurnya Riswan dan Desy membuat Gerakan Seribu Mata Palsu gratis, terutama untuk anak-anak yang tidak mampu. Mengacu ke pengalamannya, Desy melihat banyak yang memakai mata palsu buatan pabrik, dengan warna dan ukuran yang tidak sesuai.

"Pengalaman bertemu dengan anak-anak yang mengalami sama dengan anak saya, mereka mengunakan mata palsu buatan pabrik. Pasti mengalami hal yang sama dengan anak saya, apalagi kita tidak tahu bahannya apa," sebutnya.

Sebagai orangtua, ia merasakan anaknya menjadi perhatian bila memakai mata palsu yang tidak serupa. Jika mereka sudah dewasa, itu akan mengurangi kepercayaan diri sang anak.

"Jika anak kita pakai mata palsu yang tidak bagus, akan kelihatan tetap seperti palsu. Pasti orang akan melihat. Kalau anak sudah lebih gede, kadang mereka akan diejek teman-temannya. Bahkan ada yang tidak mau sekolah dan bermain," terangnya.

Melalui gerakan 100 mata palsu itu, Riswan dan Desy ingin membantu anak-anak tidak mampu berusia di bawah 10 tahun mendapatkan mata palsu berkualitas yang mirip dengan asli. Gerakan itu dapat membantu mereka yang tidak bisa membeli mata palsu.

Di Asia, pembuatan protesa mata membutuhkan biaya sebesar Rp18 juta, di Inggris Rp25 juta. Untuk membuat mata palsu di klinik Ilyarsi Okurasi, dibutuhkan biaya Rp7 juta. Namun, mereka memiliki ketentuan sendiri, bagi pasien yang kurang mampu.

Salah satu penerima mata palsu, Maya Nur Laila. Perempuan yang kehilangan satu matanya akibat kecelakaan itu telah memaki mata palsu sejak 2014. "Mata saya kemasukan kaca pecah, ketika tabrakan dengan truk pembawa beton. Sejak itu, sudah mulai pakai mata palsu, tetapi dulu ke mana-mana harus pakai kacamata dan tisu. Karena mengeluarkan banyak kotoran," katanya. Sejak menggunakan mata palsu dari Klinik Mata Palsu Ilyarsi Okularis, ia lebih percaya diri.

(M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More