Dua Pelaku Skimming ATM Akhirnya Dideportasi

Penulis: Lina Herlina Pada: Kamis, 22 Mar 2018, 13:55 WIB Nusantara
Dua Pelaku Skimming ATM Akhirnya Dideportasi

MI/Lina Herlina

IMIGRASI Kelas I Makassar, Sulawesi Selatan akan mendeportasi dua warga Turki kembali ke negaranya. Kedua pria tersebut ditangkap sebagai tersangka pembobol data kartu ATM nasabah bank pada Juni 2017.

Dua orang berjenis kelamin laki-laki itu, rencananya akan dipulangkan bertahap, yaitu Hayrullah Ceylan, 38, pada 23 Maret 2018 dan Ismail Yoru, 34, dipulangkan 26 Maret 2018.

Kepala Divisi Imigrasi Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sulsel Kaharuddin, Kamis (22/3) menjelaskan, dua orng itu, telah menjalani hukuman tahanan sembilan bulan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Makassar.

"Sebelum dipulangkan besok dan senin mendatang, sekarang mereka berdua di simpan di ruang detensi imigrasi, selama menunggu proses deportasi," kata Kaharuddin.

Sebelumnya, Hayrullah dan Ismail dibekuk aparat Kepolisian Resor Kota Besar Makassar pada 10 Juni 2017. Mereka dijerat dengan pasal 363 KUHP tentang pencurian, karena terbukti menguras isi rekening sejumlah nasabah bank lewat kartu ATM yang diduplikatkan.

Saat keduanya tertangkap, polisi menyita barang hasil kejahatan, berupa uang tunai Rp75 juta, satu unit laptop, serta perangkat alat yang digunakan merekam data atau skimming ATM korban, buku catatan berisi sejumlah nomor kode PIN kartu ATM nasabah bank, dan 44 kartu ATM hasil duplikat.

"Mereka memilih melakukan praktek kejahatan ini di Indonesia karena sistem keamanan di sini lebih longgar dibandingkan negara lain. Di Turki, menurut pengakuan mereka, mesin ATM dijaga ketat petugas security," seru Kahar.

Hayrullah dan Ismail masuk ke Indonesia pada April 2017. Mereka menggunakan fasilitas visa bebas kunjungan singkat (VBKS) yang berlaku selama 30 hari. Mereka kemudian membobol kartu ATM nasabah bank pada Mei 2017.

Kedua berhasil membobol sejumlah ATM dua bank, yaitu BNI dan Bank Syariah Mandiri, dan mengumpulkan sebanyak Rp140 juta hanya dalam kurun waktu sebulan.

Saat dimintai keterangannya, kenapa memilih Indonesia, Ismail mengaku awalnya tidak ke pikiran untuk Indonesia. "Tapi setelah di Indonesia, ternyata sangat mudah untuk membobol ATM karena pengamanan yang minim," akunya. (OL-5)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More