Fragmen Orang Rohingya

Rabu, 3 June 2015 17:45 WIB Penulis:

AFP/Christophe Archambault/Chaideer Mahyuddin

Di perahu kayu, Sanuarbego, 18, Ambihatu, 21, dan Husmahatun, 21, meratap pilu. Wajah-wajah mereka mengisyaratkan nestapa yang luar biasa. Kamis (14/5), para perempuan itu ditemukan terombang-ambing di Laut Andaman, Thailand. Bersama 400 manusia perahu lainnya, mereka telah tiga bulan mengarungi lautan demi mencari kedamaian.

Meski 10 orang mati di lautan, para pencari suaka itu terus melanglang ke negeri orang. Tingginya gelombang bukan penghalang. Akhirnya, dari tengah samudra, nelayan Aceh menyelamatkan dan membawa mereka bersandar di Bumi Nusantara. Orang-orang merana itu bagian dari ratusan ribu rumpun muslim Rohingya yang tercerabut dari Myanmar. Mereka ialah kaum minoritas yang dilindas kabilah mayoritas.

Kini, Sanuarbego, Ambihatu, Husmahatun, dan ratusan orang Rohingya lainnya tak lagi didera sengsara. Di posko pengungsian Bayeun, Aceh, mereka melanjutkan kehidupan. Di tanah Serambi Mekah mereka melabuhkan harapan. Hidup dalam kedamaian.

Itulah kisah yang dicuplik dalam foto gabungan karya fotografer Agence France-Presse (AFP) Christope Archanbault dan Chaideer Mahyuddin. Sepenggal fakta tentang kesengsaraan dan kepastian kehidupan. Gambar bermakna ketidakpedulian dan kepedulian sesama manusia dalam bingkai yang sama.

Potret penderitaan rakyat Rohingya lambat laun merambah jagat media. Wajah duka mereka menghiasi halaman-halaman koran, mengisi ruang-ruang media daring, dan layar-layar televisi. Fragmen penderitaan itu kemudian perlahan membangkitkan solidaritas kemanusiaan. Rakyat Indonesia dari berbagai kota bergerak bersama untuk meringankan derita. Solidaritas yang sama juga ditunjukkan umat Buddha. Waisak menjadi momentum dalam menyemai kebaikan dan menghargai keberagaman. Semuanya memberi bukti betapa tingginya nilai kemanusiaan bangsa kita.

Saat ini, sekitar 3.500 orang Rohingya telah menghuni posko-posko pengungsian di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Di Indonesia, mereka diberi kesempatan tinggal di posko pengungsian setidaknya setahun ke depan. Pemerintah juga berupaya mencari solusi penyelesaian problema kemanusiaan tersebut. Pemerintah negara ASEAN lainnya juga tidak berpangku tangan. Pekan lalu, di Bangkok, perwakilan dari 17 negara sepakat mencari jalan bersama menyelesaikan masalah imigran Rohingya.

Namun, empati itu belum mampu mengusik nurani pejuang demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi. Meski sudah didesak pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama, peraih Hadiah Nobel Perdamaian itu tetap diam saja. Bergeming, ketika ratusan ribu rakyat di negaranya diperlakukan tidak manusiawi karena berbeda agama. Membatu, saat kejahatan kemanusiaan menimpa etnik Rohingya.

Sikap Suu Kyi itu tentu menodai perjuangannya dalam ranah demokrasi selama ini. Tampaknya Suu Kyi melupakan ungkapan bijak yang pernah ia sampaikan. "I do protect human rights, and I hope I shall always be looked up as a champion of human right."

Sabtu lalu, sekelompok demonstran meletakkan poster bergambar wajah Suu Kyi di antara kawat berduri Kedubes Myanmar di Jakarta. Poster yang berisi pertanyaan akan nihilnya peran pejuang kemanusiaan. Kesaksian dalam bingkai fotografer Antara, Andika Wahyu, itu menjadi foto utama halaman depan Media Indonesia, Sabtu (30/5). Mengingatkan kita bahwa masih banyak yang mengabaikan derita orang Rohingya.

Pada titik ini, foto jurnalistik menunjukkan kekuatannya. Fakta visual yang terhampar bukan sekadar kabar biasa, melainkan juga mengoyak nurani para penikmatnya. Memberi petuah, mengingatkan, dan menggerakkan kita untuk menghargai kehidupan. Ujungnya, di hadapan kita tak lagi ada yang menjerit kelaparan atau menangis penuh penderitaan.

Foto-foto jurnalistik yang bertenaga itu sejatinya telah memberikan sumbangan berharga bagi rakyat Rohingya. Menjadi prolog bagi bertumbuhnya harapan dan penghargaan terhadap kemanusiaan. Ia bagaikan manifesto yang menyentuh hingga sisi terdalam jiwa. Itulah hakikat jurnalisme visual yang sesungguhnya. Semua itu ada karena jurnalis foto yang menjiwai kewajibannya. (Hariyanto)

Komentar