Memburu 'Zaman Batu'

Senin, 25 May 2015 17:49 WIB Penulis:

ZAMAN kerap bergerak dengan kecepatan dan arah yang tak terduga. Siapa yang mengira, hari-hari ini, orang-orang bergerak memburu batu mulia, tak mengenal terang, tak peduli gelap.

Sejak empat bulan lalu, misalnya, seorang kawan selalu memamerkan batu akik miliknya. Saban kali bertemu, batu penghias cincin di jarinya itu kerap berbeda, disesuaikan dengan pakaiannya. Kawan lain mengaku cincin batu akik yang dipakainya menaikkan level kepercayaan diri. Ia meyakini batu mulia itu memiliki kekuatan magis yang membuat karismanya bertambah. Ada pula yang merambah jejaring dunia maya untuk memamerkan koleksinya.

Meski diprediksi bakal berakhir pertengahan tahun ini, gandrung batu akik belum menampakkan tanda-tanda usai. Sebaliknya, kegandrungan makin masif, bahkan telah menjadi epidemi di seluruh penjuru negeri. Epidemi yang menjangkiti tua muda, miskin kaya, rakyat biasa hingga pejabat negara. Epidemi yang ramai diperbincangkan di ruang-ruang terang hingga remang-remang. Epidemi yang bukan untuk disembuhkan, melainkan malah dilestarikan.

Beragam upaya telah dilakukan agar euforia batu akik tidak berakhir tragis seperti nasib anturium dan louhan pada tahun-tahun silam. Ada partai yang menggelar festival batu akik. Ada restoran yang memberi diskon khusus bagi pemilik batu akik. Suvenir delegasi Konferensi Asia Afrika yang belum lama berlalu juga berupa batu akik. Bahkan, ada pula bupati yang mengimbau PNS memakai batu akik demi pengembangan potensi batuan alam itu.

Di sana-sini banyak orang asyik sendiri, menggosok-gosok batu akik di jemari agar tetap kinclong. Batu akik tak lagi sekadar aksesori, tetapi telah memberi jeda pada laku hidup sehari-hari. Membuat kaum berada kian peduli pada kesenangan diri. Membuat rakyat jelata terlupa sejenak akan beratnya beban kehidupan.

Lantas, apa pertalian antara batu akik dan fotografi jurnalistik? Yang pasti, bagi pewarta, keranjingan masif batu akik jelas bernilai berita tinggi. Ia magnet yang terlalu sayang untuk diabaikan. Menjamurnya lapak batu akik di pinggir jalan hingga keranjingan yang merasuki banyak orang sungguh layak digambarkan. Apalagi jika melihat kegairahan mencari batu mulia itu, mulai membongkar batu-batu di trotoar sampai mencongkel hiasan nisan di kuburan.

Fakta-fakta yang tidak biasa itu selayaknya menjadi milik kita. Hal yang tidak biasa itu menarik minat pembaca. Jurnalis foto yang memiliki curiousity tinggi secara instingtif akan bergerak menuju realitas tersebut. Lalu, berusaha mengemasnya dalam sebuah catatan visual yang menggoda.

Tak bisa dimungkiri, curiousity ialah nyawa bagi pewarta. Untuk itu, seorang pewarta wajib mengakrabi pengetahuan, bergaul dengan ide-ide besar, dan mencintai detail. Pun begitu dengan pewarta foto. Hal itu senapas dengan kalimat bijak fotografer kondang asal Amerika Serikat Ansel Adams (1902-1984), "You don't make a photograph just with a camera. You bring to the act of photography all the picture you have seen, the books you have read, the music you have heard, the people you have love."

Memang tidak banyak jurnalis foto yang tertarik mengabadikan fenomena 'zaman batu' ini. Jika dibandingkan, tentu lebih banyak yang larut dan menjadi bagian dari euforia. Namun, setidaknya masih ada yang memaknai fenomena itu sebagai ladang liputan yang mencerahkan.

Tengoklah foto cerita bertajuk Sebongkah Asa di Kalimaya karya Rommy Pujianto di rubrik Foto Media Indonesia edisi Minggu (8/3). Pada saat bersamaan, foto bertutur Para Pemburu Mata Cincin bidikan P Raditya Mahendra Yasa mengisi rubrik Foto Pekan Ini di Kompas. Cerita dalam foto-foto itu mengisyaratkan kejelian mereka dalam melihat fenomena.

Bagi saya, jurnalis foto yang baik harus mampu menangkap tiap tanda-tanda, gejala, dan fenomena. Lalu, menyajikannya menjadi produk jurnalistik. Agar zaman tak terlewatkan. Supaya jejak terus tampak. (Hariyanto)

Komentar