Berkaca Diri

Senin, 18 May 2015 17:52 WIB Penulis:

SALAH satu postulat penting dalam dunia politik ialah politics is the art of the possible. Politik ialah seni kemungkinan. Itulah ungkapan Otto von Bismarck, kanselir pertama kekaisaran Jerman abad ke-19. Sebuah tuturan yang dapat dimaknai bahwa dalam politik segala hal bisa terjadi. Hal yang tidak mungkin dapat menjadi mungkin. Seperti saujana politik negeri ini.

Identik dengan politik, dunia foto jurnalistik pun begitu. Cabang dari jurnalisme ini menantang para pelakunya jeli menangkap peluang. Kejelian yang menjadi modal penciptaan kemungkinan. Sekecil apapun celahnya, bukan tidak mungkin akan besar dampaknya. Tentu saja, tiap-tiap kemungkinan dilahirkan dari fakta berbasis kejujuran. Bukan rekayasa. Jika politik lebih kuat tumpuannya pada kepentingan, fotografi jurnalistik berepisentrum pada kejujuran.

Kemungkinan itu ada di mana saja. Di sekitar kita hingga nun jauh di sana. Dari peristiwa yang ideal secara visual hingga seremonial biasa. Inilah seni dan tantangan yang saya maksudkan. Jurnalis foto jempolan tetap mampu menghadirkan fakta visual menggoda dari peristiwa yang biasa saja. Adapun yang lainnya, berkarya demi menunaikan tugas semata.

Acara seremonial, rapat kerja, serah terima jabatan, konferensi pers, peluncuran produk, dan semacamnya merupakan peristiwa yang tidak ideal secara visual. Perhelatan seperti itu biasanya membuat banyak jurnalis foto enggan menjalankan kewajiban. Akibatnya, kualitas foto yang mereka hasilkan jauh dari memuaskan.

Padahal, fakta acap berkata beda. Gambar istimewa, bahkan hingga memenangi lomba sekalipun, dapat muncul dari peristiwa yang biasa saja. Contohnya foto karya fotografer Aktual.co, Tino Oktaviano, yang memenangi kontes foto Aktivitas CSR Korporasi, beberapa waktu lalu. Foto acara seremonial itu terpilih karena pesan yang disampaikan menyentuh sisi humanisme dan sensitivitas manusia, yakni membangun harmonisasi kalangan berada dengan kaum papa.

Selain itu,tak sedikit jurnalis foto yang didera kemalasan. Mudah patah arang. Tidak teguh menghadapi hambatan. Maunya yang gampang-gampang saja. Bahkan, mengisi hari demi hari dengan keluhan demi keluhan. Terkungkung pada zona nyaman. Semuanya terasa pahit dikatakan, tapi kenyataan memang demikian. Tumbuhnya bibit-bibit negatif itu perlahan tapi pasti akan menyingkirkan seorang jurnalis foto dari ketatnya persaingan.

Jurnalisme visual ada bagi mereka yang kuat mental dan senantiasa setia menjalankan fungsi pewarta. Ada bagi mereka yang konsisten peduli pada kegetiran, kebahagiaan, dan harapan. Sebaliknya, ia bukan untuk mereka yang hanya peduli pada diri sendiri, yang setiap melangkah selalu menghitung untung-rugi.

Pun begitu jika kita membedah tanggung jawab editor foto. Sebagai 'orang dalam', editor foto wajib menyiapkan rumah yang indah bagi fotografernya. Rumah yang menjadi tempat bertumbuhnya nilai-nilai keteladanan, keterbukaan, dan tenggang rasa. Rumah yang tidak mengenal kasta; atasan-bawahan.

Editor foto dituntut memiliki kemampuan untuk memberi energi dan pengayaan bagi fotografer di medan liputan. Ia selayaknya menjadi teman seperjalanan yang mencerahkan dan mampu melancarkan sumbatan komunikasi dalam ruang-ruang bersekat. Ia juga bukan sekadar tukang tempel gambar pada kotak-kotak kosong pengisi halaman.

Harmonisasi antara jurnalis foto dan editornya tidak hanya meringankan langkah, tetapi juga memberikan kekuatan luar biasa untuk maju bersama. Sebaliknya, kondisi disonansiakan menjadi benih yang menumbuhsuburkan perpecahan. Mari berkaca diri. (Hariyanto)

Komentar