Video

Sensasi Berolahraga di atas Trampolin

Melompat dan berkeringat dengan iringan musik beat. Itulah yang dilakukan oleh tiga perempuan paruh baya asal Negeri Sakura, Jepang di tempat pusat kebugaran yang berlokasi di kawasan Pondok Indah pagi hari itu.

Tampak begitu bersemangat dan antusias, ketiga perempuan yang sudah lengkap menggunakan busana olahraga itu langsung mendengarkan dengan serius arahan dari instruktur tentang bagaimana aturan dan mengikuti kelas yang bernama bounce fit tersebut.

"Kelasnya seru dan fun karena kita berolahraga dengan diiringi musik dan menggunakan trampolin. Jadi seperti ada gabungan olahraga dan fun," tutur Yae Aroi ketika dijumpai di UBI FIT di kawasan Pondok Indah, Kamis (10/8).

Menggunakan alat trampolin berbentuk lingkaran yang digunakan oleh setiap peserta. Dalam kelas ini nantinya instruktur akan memulai dengan tahapan pemanasan, gerakan inti hingga pendinginan. Gerakan seperti berlari pelan, cepat, kombat hingga squat, push up dan sit up semuanya dilakukan di atas trampolin.

Seperti melakukan olahraga kebanyakan, instruktur langsung meminta kepada semua peserta untuk melakukan pemanasan yang dilakukan di atas trampolin. Gerakan seperti melenturkan badan, jogging dan pengenalan keseimbangan di atas trampolin pun dilakukan.

"Intinya mungkin supaya tidak kaget dan terbiasa melakukan kegiatan olahraga di atas trampolin ini. Mungkin kebetulan saya sudah lumayan sering ikut kelas seperti ini, jadi sudah tidak kaget lagi dan terbiasa melakukan berbagai gerakan," sambung perempuan asal Tokyo ini.

Sekilas, mengikuti kelas ini memang sangat terlihat menyenangkan dan mudah untuk diikuti. Namun ternyata, tenaga dan stamina yang diperlukan untuk mengikuti kelas ini selama durasi 60 menit tidaklah mudah. Dibutuhkan ketahanan fisik yang mumpuni untuk bisa maksimal.

"Kalau dilihat memang mudah karena semua gerakan dilakukan diatas trampolin sehingga pergerakan kaki lebih mudah. Namun saya pikir justru jadi sulit karena harus fokus pada keseimbangan dan gerakan yang diarahkan oleh instruktur," kata Yae.


Gabungan

Selain memperagakan gerakan-gerakan dasar, di kelas bounce fit ini juga diajarkan gerakan kombat atau fighting yang digabungkan dengan gerakan melompat di atas trampolin. Peserta akan diminta melakukan gerakan boxing dengan mengarahkan tangan kedepan secara bergatian.

"Disini kita juga memadukan gerakan kombat serperti meninju dengan melompat. Jadi yang dilatih disini adalah kecepatan tangan dan keseimbangan kaki yang sedang melompat diatas trampolin," tutur instruktur bounce fit, Rahmat Hidayat.

Menurutnya selain melatih kecepatan tangan dan keseimbangan kaki, gerakan kombat seperti ini sangat baik untuk melatih sinkronisasi antara pikiran, tangan dan kaki di setiap tubuh manusia. Karena peserta diharuskan menggerakan kaki di atas trampolin sambil berputar serta melakukan gerakan meninju pada kedua tangan.

"Gerakan latihan seperti ini sangat bagus untuk sinkroniasi otak. Karena gerakannya gabungan sehingga dibutuhkan konsentrasi dan fokus dalam mengikuti arahan instruktur," sambungnya.

Selain itu, latihan selama 60 menit di atas trampolin sangatlah membutuhkan stamina dan ketahanan fisik yang mumpuni. Pasalnya, peserta dipaksa untuk terus bergerak dan hanya diberikan kesempatan satu kali istirahat pada pertengahan sesi latihan bounce fit ini.

"Kalau diikuti dengan benar dan maksimal, jangan kaget jika kalori yang dibakar cukup banyak. Mungkin satu sesi latihan bisa membakar sebanyak 500-600 kalori," ungkap Rahmat.


Pembentukan Otot

Meski terlihat olahraga yang mudah dan menyenangkan, bounce fit ternyata juga merupakan olahraga yang sarat pembetukan massa otot secara maksimal. Otot utama yang paling disasar ada bagian core, kaki dan tangan.

Rahmat Hidayat menjelaskan bahwa beberapa gerakan memang memaksa otot core dan kaki untuk dilatih secara maksimal. Beberapa gerakan seperti squat dan sit up adalah salah satunya.

"Squat dan sit up di atas trampolin sangatlah maksimal dalam membentuk otot bagian core. Karena secara tidak disadar, otot core adalah inti dari segala otot dalam tubuh," ujar Rahmat.

Selain itu, Rahmat juga selalu mensisipkan gerakan push up di atas trampolin. Secara tidak sadar, melakukan push up di atas trampolin menjadi lebih sulit ketimbang dilakukan pada lantai keras.

"Karena kita harus mengimbangi gerakan diatas bahan yang lentur. Jadi otot yang bekerja pun lebih maksimal dan tentunya hasil yang didapat juga menjadi lebih baik," sambungnya.

Oleh sebab itu, selain hasil yang maksimal, Rahmat juga menekankan bahwa olahraga ini sangatlah aman bagi pemula dan orang yang pernah memiliki riwayay cedera.

"Ini sangat aman karena dilakukan diatas bahan yang lentur dan elastis. Namun jika memang pernah ada riwayat cidera, tentu harus terlebih dahulu di diskusikan dengan instruktur agar dapat diarahkan," pungkasnya. (RIO)