Video

Regenerasi, Upaya Tanjidor Tiga Saudara Bertahan Sejak 1971

MESKI perangkat musik yang terdiri dari klarinet, piston, trombon, saksofon, hingga tambur itu tampak usang, Minan dan kelompoknya tetap bersemangat tampil. Kelompok yang bernama Tanjidor Tiga Saudara tersebut memperlihatkan rutinitas berlatih kepada Media Indonesia. Nyatanya, melodi demi melodi yang mereka sajikan memang masih nikmat di telinga.

Namun sayang, latihan itu bukan bagian persiapan penampilan malam tahun baru. Seperti juga yang mereka alami beberapa bulan ini, order penampilan tidak lagi menghampiri. Tersingkir dengan seni yang lebih modern dan merakyat, seperti dangdut.

Di masa jaya, kelompok yang berdiri pada 1971 ini laris di panggung pesta rakyat pemerintah, acara pernikahan, sunatan, dan di acara-acara komunitas Betawi.

Untuk tarif, mereka umumnya menyesuaikan dengan skala acara. Pada acara-acara besar, kelompok Minan mematok harga hingga Rp7 juta. Sementara itu, untuk hajatan biasa mereka mematok harga Rp1 juta hingga Rp2,5 juta. Pendapatan itu pun masih dipotong lagi dengan sewa kendaraan. Hingga praktis, profesi pemain tanjidor memang sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dengan minimnya order, Minan mengatakan kelompok-kelompok tanjodir yang lain pun sulit bertahan. Minan menyebut saat ini tinggal empat kelompok tanjidor tersisa di Jabodetabek. Dua di antaranya berada di Jakarta Timur, satu kelompok di Tangerang Selatan, dan satu kelompok di Jakarta Selatan. "Hampir semua kan teman di kelompok-kelompok itu, makanya saya tahu," ujarnya. Mewakili kelompok tanjidor yang tersisa, Minan berharap adanya perhatian serius dari pemerintah terkait.

Di tengah kondisi sulit, komunitas tanjidor ini tetap berupaya melestarikan budaya dengan memberikan pelatihan kepada anak-anak, yang nantinya diharapkan menjadi generasi penerus Tanjidor Tiga Saudara.

"Ini sekadar latihan, kebetulan anak-anak di lingkungan ini mau belajar musik tanjidor, ya, kita ajarkan, alhamdulillah mereka sekarang yang jadi penerus kelompok ini," tutup Minan.