Titik Panas Berkurang, Indonesia dapat Apresiasi dari Negara-Negara ASEAN


Penulis: Putra Ananda - 05 June 2017, 16:38 WIB
ANTARA/JESSICA HELENA WUYSANG
ANTARA/JESSICA HELENA WUYSANG

JUMLAH titik panas atau hot spot yang terus berkurang dari tahun ke tahun diapreisasi oleh negara-negara tetangga yang berada di kawasan Asean. Sejak 2015 hingga pertengahan 2017 penurunan titik panas di 10 provinsi rawan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia capai 80%.

"Dalam 2 tahun terakhir ini negara ASEAN memberikan apresiasi kepada kita karena dinilai berhasil menangani kebakaran hutan dan lahan," ujar Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Raffles B Panjaitan, di Jakarta, Senin (5/6).

Negara yang paling mengeapresiasi keberhasilan Indonesia dalam menagani kebakaran hutan ialah Singapura. Raffles menuturkan Menteri Lingkungan Hidup Singapura memuji kinerja Indonesia dalam menangani titik panas 2 tahun terakhir. Karena memang angin yang mengarah ke utara atau timur laut dapat mengarahkan asap dari Indonesia ke Singapura atau Malaysia.

"Terutama dari Menteri Lingkungan Hidup Singapura karena komitmen Indonesia untuk menjaga tidak adanya kebakaran hutan dari 2016 hingga 2017 ini masih terlaksana," tambahnya.

Raffles melanjutkan, perlu diingat bahwa tanpa diberi penghargaan dari negara tetangga pun Indonesia tetap memiliki komitmen untuk menjaga kebarakan hutan. Pencegahan bertujuan untuk menghilangkan dampak kebakaran hutan yang bisa memberikan kerugian kepada masyarakat Indonesia.

"Karena yang merasakan dampak buruk dari kebakaran hutan kan masyarakat Indonesia juga. Seperti misalanya kebakaran hutan hebat yang terjadi di tahun 2015, banyak sekolah libur, kesulitan transportasi, dan meningkatkan masyarakat yang terkena penyakit ISPA," paparnya.

Pada 2015 jumlah titik panas di Indonesia capai 2,6 juta hektare (ha). Turun 84% di 2016 menjadi 438.000 ha. Pada pertengahan semester 2017 ini titik panas yang termonitor oleh KLHK hanya terdapat di 13.370 ha. (OL-6)

BERITA TERKAIT