Cegah Demensia, Manasik Haji Ajarkan Adaptasi Lingkungan di Saudi


Penulis: Sitria Hamid dari Arab Saudi - 13 September 2019, 21:35 WIB
MCH2019/Fajar
MCH2019/Fajar

MANASIK haji diharapkan tidak hanya mengajarkan para jemaah calon haji tentang tata cara beribadah di Tanah Suci. Akan tetapi juga mengajarkan jemaah haji bagaimana cara beradaptasi dengan kondisi lingkungan di Arab Saudi.

Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek, menyampaikan permintaan tersebut dalam acara ramah tamah dengan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daker Madinah, di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), di Madinah, Kamis (12/9) malam waktu Arab Saudi.

"Saya meminta kalau bisa manasik itu jangan hanya mengajarkan bagaimana ibadah haji. Tolong pak, ajarkan juga bagaimana masuk kapal terbang, bagaimana toiletnya, dan lainnya sampai di di Tanah Suci ini apa yang harus mereka lakukan dan apa yang terjadi," kata Menkes, dalam acara yang juga dihadiri antara lain Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag, Nizar Ali, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Anung Sugihantono, Konsul Jenderal RI, Mohamad Hery Saripudin, Direktur Bina Haji Kemenag, Khoirizi Dasir, Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Eka Jusuf Singka, Kepala Daerah Kerja Madinah Akhmad Jauhari, Kepala Daerah Kerja Bandara, Arsyad Hidayat.

Pesan yang disampaikan Nila Moeloek tersebut senada dengan arahan yang sering disampaikan Menag RI Lukman Hakim Saifuddin, untuk fokus pada penguatan manasik di haji mendatang. Penguatan tersebut, kata Menag, tentunya tidak hanya pada aspek ibadah, tapi juga pengenalan lingkungan.

Menurut Menkes, banyak jemaah haji mengalami demensia saat berada di Arab Saudi karena tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan baru di sekitarnya. Padahal, sebelumnya jemaah haji tersebut dalam kondisi sehat saat berangkat dari Tanah Air.


Baca juga: Saudi Terapkan Visa Berbayar, Sepenuhnya Kewenangan Kerajaan


Tidak mampunya jemaah haji beradaptasi mulai dari saat berada di pesawat terbang hingga tiba di Tanah Suci, menjadi salah satu faktor penyebab gangguan demensia atau pikun itu muncul.

"Jadi bukan berarti mereka juga sakit sebelumnya. Kami bisa membayangkan seseorang yang demensia ini dengan perubahan ke negara asing, bagi mereka yang belum pernah pergi kemana-mana. Ada yang petani, satu perubahan budaya yang luar biasa bagi mereka. Tentu mereka syok kejiwaannya," jelas Nila seperti dilaporkan wartawan Media Indonesia, Sitria Hamid, dari Madinah.

Dia menyebutkan, selama musim haji 2019 sekitar 144 jemaah haji demensia dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), baik di KKHI Mekah (89 jemaah haji), dan KKHI Madinah (55 jemaah haji).

Para pasien demensia yang didominasi lansia tersebut, lanjut Nila, lupa akan dirinya dan kondisi sekitarnya. Demensia banyak dialami jemaah haji gelombang 1 dan 2 sebelum memasuki puncak haji Armuzdna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) hingga berakhirnya Armuzdna.

Oleh karena itu, Menkes meminta manasik haji juga mengajarkan kepada jemaah haji bagaimana cara untuk beradaptasi dengan kondisi dan lingkungan baru di Arab Saudi.

Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kemenag, Nizar Ali, mengatakan bahwa pihaknya sudah mengajarkan pengetahuan tentang kondisi Arab Saudi selain manasik untuk bimbingan ibadah kepada jemaah haji. Termasuk, pengetahuan tentang menggunakan toilet di pesawat, dan bagaimana menggunakan peralatan di hotel tempat jemaah haji menginap.

"Hingga pengetahuan tentang kondisi di Arab Saudi terutama perubahan suhu di Arab Saudi yang cukup ekstrem jauh berbeda dari Tanah Air," jelas Nizar.

Hal itu akan terus diberikan kepada jemaah haji saat mengikuti manasik di daerah asal masing-masing. (OL-1)

BERITA TERKAIT