Komedi Perdana yang Menjanjikan


Penulis: Galih Agus Saputra - 22 September 2019, 13:00 WIB
ANT/ Dhemas Reviyanto (STR)
ANT/ Dhemas Reviyanto (STR)

Kalau di Britania Raya ada duo Ant & Dec yang sejak akhir 1980an selalu menghibur penontonnya lewat siaran layar kaca, Indonesia juga punya host (pembawa acara) dengan persona serupa, yaitu Vincent dan Desta. Dua orang bernama lengkap masing-masing Vincent Ryan Rompies dan Deddy Mahendra Desta itu sudah melanglang buana di dunia hiburan Tanah Air sejak era 1990-an, sebelum kemudian berjodoh dalam satu band, Club Eighties.

Meski sering berduet di layar kaca, keduanya belum pernah tampil bareng di layar perak. Berangkat dari situ, keduanya mendirikan rumah produksi The Pretty Boys Pictures, yang baru saja melahirkan Pretty Boys, film perdana yang menjadi kesempatan pertama mereka berdua  bermain bersama. Pretty Boys juga menjadi feature film perdana bagi musikus/dokter/fotografer Tompi sebagai sutradara.

Pretty Boys bercerita tentang Rahmat (Desta) dan Anugrah (Vincent) yang berjuang untuk meraih cita-cita masa kecil, menjadi pembawa acara sukses di Indonesia. Berbagai macam rintangan mereka hadapi, termasuk bagaimana Anugrah mendapat larangan dari sang Ayah, yaitu Jono (Roy Marten), yang menganggap dunia hiburan lekat dengan hal buruk sekaligus memalukan keluarga.

Pada suatu titik, karier Rahmat dan Anugrah yang sempat 'mentok' sebagai penyaji dan koki di restoran, berubah. Semua itu bermula dari kesempatan mereka berdua saat menjadi penonton bayaran dalam sebuah program bincang 'Kembang Gula'. Dari situ, mereka bertemu dengan kordinator penonton bayaran bernama Roni (Onadio Leonardo), yang kemudian menjadi sosok yang memengaruhi perjalanan karier mereka.

Sekalipun enggan disebut sebagai kritik, namun sesungguhnya Pretty Boys berisi curahan hati terkait seluk-beluk di industri hiburan tanah air. Sang Sutradara, Tompi mengaku tertarik dengan ide tersebut karena prihatin terhadap tayangan televisi yang kian hari kian jauh dari pakem.

Senada dengan anggapan tersebut, Vincent juga punya pandangan bahwa dewasa ini banyak orang yang rela mengubah kepribadiannya demi tampil di layar kaca. "Hanya agar terkenal saling mem-bully, atau berdandan tidak sesuai. Orang-orang yang bermimpi bisa masuk televisi bisa menganggap itu sebagai panutan," kata dia , saat konferensi pers Pretty Boys, di XXI Epicentrum, Kuningan Jakarta, Senin (16/9).

Sementara itu, menurut Desta, tayangan yang kurang mendidik di dalam televisi itu sebenarnya seperti analogi ayam dan telur. "Siapa yang meminta duluan? Apakah berasal dari demand para penonton sehingga muncul tayangan yang kurang mendidik ataukah tayangan kurang mendidik yang muncul terlebih dulu dan ratingnya tinggi sehingga terus menerus diproduksi? Karena itu, kami memakai tagline 'televisi yang menodai kita atau kita yang menodai televisi?' untuk menggambarkan hal tersebut," tuturnya.

Komedi ciamik

Mengangkat seluk-beluk di balik industri hiburan atau tontonan sebagai ide cerita sebenarnya bukan lah hal baru dalam sebuah sinema. Anthony McPartlin (Ant) dan Declan Donnelly (Dec) juga menawarkan persoalan yang kurang lebih sama ketika tampil di Alien Autopsy (2006). Hanya saja, dalam film itu, Ant dan Dec menyuguhkan persoalan yang kompleks terkait sebuah skandal perfilman, yang akhirnya menipu seluruh penikmat televisi di berbagai penjuru dunia. Dari film itu pula, mereka tidak hanya menawarkan intrik, namun juga banyolan yang kadang menjengkelkan dan mengundang tawa di saat yang sama.

Begitu juga dengan Pretty Boys, pengembangan karakter utama yaitu Rahmat dan Anugrah juga tak jarang mengocok perut penontonnya. Unsur komedi yang ditawarkan Imam Darto sebagai penulis skenario tampak segar dan ciamik. Ia tidak terjebak dalam slapstik layaknya film komedi lainnya, namun ia justru menyuguhkan guyonan yang juga tak asing bagi kalangan milenial.

Tak hanya itu, Vincent sebagai Rahmat bahkan telah menghasilkan 'landmark' melalui gerakan 'tor tor tor'-nya. Kalau berhasil, adegan yang satu ini barang kali dapat menjadi salah satu sumbangan gimmick terhadap katalog komedi Tanah Air. Layaknya Jaja Miharja yang mengedipkan mata sambil berkata 'Apaan tu?!' ketika memandu kuis dangdutnya, atau seperti Chicken Dance yang dibawakan Dono-Kasino-Indro lewat Warkop yang dikenal sepanjang masa.

Seluruh adegan itu lantas tampak bersinar karena didukung dengan kualitas gambar atau sinematografi garapan Tompi. Sebagai debut pertama sutradara film komedi di Indonesia, dokter spesialis bedah plastik tersebut terbukti serius menggarap atau mengatur posisi (angle) kameranya, sehingga setiap adegan yang dibawakan oleh pemeran tampak begitu nyata.

Selain itu, Tompi juga tampak piawai menggunakan teknologi pembentukan citra secara digital (Computer-Generated Imagery/CGI) dalam salah satu adegan. Penulis tentu tidak dapat menjelaskan secara detail adegan itu dalam ulasan ini, karena pemirsa berhak mendapatkan kejutannya. Namun, yang perlu dicatat, kreasi yang satu ini terlihat sangat halus dan tentu saja nyata. Ia tidak kampungan, tetapi justru menjadi adengan yang tampak lucu sekaligus elegan.

Apa adanya
Konflik yang ditawarkan melalui Pretty Boys sebenarnya bukanlah hal yang muluk-muluk. Ia sederhana dan dapat ditemui di kehidupan sehari-hari berkenaan dengan masalah karier, persahabatan, cinta, dan orangtua. Namun, justru dari dinamika yang sederhana itu lah Pretty Boys tampil sebagai film komedi yang mudah dicerna siapa saja.

Dari sisi akting, duo pemeran utama tampak mengalir dan apa adanya. Vincent dan Desta yang sudah kuat dengan persona 'konyol'-nya tampak tak perlu bersusah payah membawakan peran Anugrah dan Rahmat, karena boleh dibilang karakter Anugrah adalah Vincent dan karakter Rahmat adalah Desta, begitu juga sebaliknya.

Sayangnya, Pretty Boys berakhir dengan cerita yang sedikit ngambang. Klimaks yang ditawarkan tak begitu memuaskan dan justru membuat pemirsanya bertanya-tanya. Namun, barangkali ini keputusan artistik untuk kepentingan masa mendatang. Keluarga besar The Pretty Boys Pictures tampaknya memang sengaja membuat penontonnya enggan meninggalkan tempat duduk sambil bertanya-tanya, "Adakah Pretty Boys ke-2?" (M-2)

 

BERITA TERKAIT