Pengamat Sebut Peluang Gerindra Masuk Kabinet Lebih Besar


Penulis: Dhika Kusuma Winata - 12 October 2019, 15:04 WIB
MI/ADAM DWI
MI/ADAM DWI

SEJUMLAH pengamat memerkirakan kemungkinan Partai Gerindra masuk dalam pemerintahan Joko Widodo periode kedua lebih besar ketimbang Partai Demokrat. 

Hal itu terlihat dari sejumlah rentetan peristiwa politik akhir-akhir ini, termasuk dari pertemuan antara Jokowi-Prabowo dan Jokowi-SBY baru-baru ini.

Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menilai peluang Gerindra masuk ke dalam kabinet tergolong besar. Partai besutan Prabowo itu, menurut dia, secara ideologis memiliki kedekatan dengan PDIP yang notabene partai pengusung utama Jokowi. Kedua partai sama-sama nasionalis.

"Meski menjadi rival pada Pilpres, hubungan Jokowi dan Prabowo terbilang baik dan saling mengunjungi," kata Qodari dalam diskusi Dinamika Politik Jelang Penyusunan Kabinet di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (12/10).

Ia juga mencatat sejak 2014 pertemuan Jokowi dan Prabowo lebih sering terjadi ketimbang pertemuan Jokowi dan SBY. Qodari juga menilai faktor yang membuat peluang Gerindra lebih besar ialah kedekatan Ketum PDIP Megawati dengan Prabowo.

Baca juga: NasDem: Koalisi Gemuk Berpotensi Menjadi Parlemen Jalanan

Menurut dia, Megawati cenderung lebih membuka tangan kepada Prabowo ketimbang SBY yang memiliki masalah pribadi di masa lalu.

"Peluang masuknya Gerindra besar. Selama Jokowi menjabat presiden, yang benar-benar oposisi itu Demokrat," imbuhnya.

Pengamat politik Universitas Negeri Jakarta Ubedillah Badrun sependapat faktor Megawati akan berpengaruh besar dalam penentuan partai nonkoalisi yang bakal masuk kabinet.

Menurutnya, komunikasi politik dengan Megawati turut menentukan parpol mana yang sebelumnya berseberangan yang diajak masuk dalam kabinet mendatang.

Ubed berpendapat saat ini PDIP secara gamblang baru membuka tangan untuk Gerindra setelah terjadinya pertemuan Megawati dan Prabowo, beberapa waktu lalu.

"Megawati tampaknya belum membuka pintu untuk SBY atau Demokrat. Itu menjadi pertanda PDIP tidak setuju Demokrat menjadi bagian dari kabinet," ucap dia. (A-4)

BERITA TERKAIT