Mata Sayu di Bingkai Rona Narendra


Penulis: Furqon Ulya Himawan - 13 October 2019, 02:10 WIB
MI/Furqon Ulya Himawan
MI/Furqon Ulya Himawan

PULUHAN mata sayu sudah menunggu di sebuah ruangan. Mata-mata itu terus memandang seolah-olah ingin menyampaikan pesan, seperti mata perempuan yang ada di pojok.

Perempuan itu berambut biru, panjang, dan belah tengah. Hidungnya mancung dan pipinya merona. Tubuhnya terangkat ke atas tak menginjak bumi. Api terus berkobar dari tungku berusaha membakarnya. Namun, perempuan itu tak berontak, ia tetap tenang.

Perempuan itu ialah Shinta. Di dekat Shinta, Rama sudah siap memegang tabung pemadam kebakaran. Jika api belum juga padam, di atas awan sudah ada balon udara bertuliskan 911 dan dua peri yang membawa ember siap menawarkan bantuan untuk memadamkan api. 

Di karya itu terlihat keberanian Rona Narendra menuangkan daya imajinasinya menafsirkan epos Ramayana dalam karya Shinta Obong. Begitulah imajinasi Rona Narendra dalam epos Ramayana lewat karya berjudul Shinta Obong. Karya itu Rona pamerkan di galeri Miracle Print, Yogyakarta, dalam pameran Tunggal Drawing bertajuk Playing with Time.

Gaya karya Shinta Obong berukuran 50x70 cm itu sangat ngepop dan penuh fantasi, seperti adanya balon udara berangka 911, tungku khas berbahan tanah liat yang membakar Shinta, dan Rama yang memegang tabung pemadam kebakaran. Kelucuan itu bisa mengisi di setiap ruang-ruang kosong.

Seolah Rona tak mengizinkan ruang kosong dalam karyanya. Dari epos Ramayana, Rona beralih pada sosok perempuan dalam dongeng bernama Roro Mendut. Sama, Rona menggoreskan sosok Roro Mendut dengan mata sayu, hidung mancung, dan berambut panjang belah tengah. Sementara itu, tangan kirinya memegang sebatang keretek yang mengeluarkan asap, persis dengan dongeng yang selama ini terdengar.

Goresan tangannya terlihat meriah dengan rumah-rumah beragam warna. Gayanya masih sama; ngepop dan sangat kekinian dengan menyuguhkan fragmen orang-orang yang tengah asyik memotret Rara Mendut menggunakan gawai.

Sepertinya Rona ingin mengetengahkan kembali keberanian sosok Roro Mendut dalam menjalani kehidupan, yang dalam kisahnya semangatnya patut diteladani dalam mendobrak sekat gender dan sesuatu yang dianggap tabu di masanya. Seperti perempuan tidak boleh bekerja dan stigma negatif bagi perempuan yang merokok.


Miss Venus

Selain mengetengahkan Shinta dan Roro Mendut, Rona juga menyuguhkan ulang karya klasik Sandro Botticelli yang berjudul The Birth of Venus. Karya itu Rona gores dengan gaya ngepop, imajinatif, dan lucu berjudul Miss Venus, di kanvas berukuran 70x50 cm.

Di ketiga lukisan itu, Rona menggunakan pen marker yang dia goreskan di atas kanvas. Itulah mengapa sejumlah warna tak bisa terlihat tegas alias kalem. Hanya garis-garis penanya yang tegas.

Ada 18 karya Rona di galeri Miracle Print. Karyanya akan terus dipajang sampai 12 Oktober mendatang. Namun, tidak semuanya menggunakan kanvas, ada yang kayu, dan plastik. Ada yang menarik dalam karya Rona Narendra berjudul Self Potrait. Jumlahnya 5 dan semua berukuran 23x30 cm. Kelima karya itu menggunakan plastik. Itu merupakan keinginan Rona untuk ikut mengampanyekan pemanfaatan plastik untuk nilai seni. “Saya kepikiran bagaimana kalau menjadikan plastik sebagai kanvasnya. Jadi, sekalian kampanye
reduce plastic,” katanya saat dijumpai akhir pekan lalu.

Di karya berjudul Self Potrait (We So Serious), terlihat sosok badut dengan beberapa balon warna-warni. Meski hidungnya tidak mancung, m atanya tetap saja sayu. Rona menjadikan pen marker untuk menggores badut dan balon di atas plastik yang dibayangkannya sebagai kanvas.

Selain menggunakan plastik sebagai kanvas, Rona juga ingin mengatakan di kelima karyanya tentang apa yang 4 tahun ini Rona tekuni. Jika dilihat, semuanya ada ikon cutter.

“Cutter sesuatu yang 4 tahun ini selalu ada dalam hidup saya,” katanya. Sejumlah ikon dalam karya yang Rona pamerkan memang tak jauh-jauh dari apa yang dilakoninya. Seperti ikon dingklik di karya berjudul You and Me. Di karya berbahan kayu berukuran 30x40 cm itu, seolah orang akan mengira Rona hendak menggambarkan kisah Adam dan Hawa.

Namun, jika dilihat seksama, ada sejumlah ikon lucu seperti dingklik, bungkus rokok, dan terompet. “Ketiga ikon itu sangat dekat dengan saya dan istri saya. Dingklik itu sudah lama dan kami sering rebutan menggunakannya,” katanya.


Sekolah alam

Karya kayu lainnya berjudul Ayo Sekolah yang jika melihatnya ingatan kita akan  dibawa pada sampul buku-buku pelajaran era 1980-1990-an. Itu adalah kegiatan Rona dalam menekuni sekolah alam. Sekolah yang sedang dia kembangkan bersama istrinya.

Goresan pena Rona di kayu, kanvas dan plastik memang mampu membawa imajinasi kita meloncat dari masa ke masa, seolaholah kita diajak memasuki lorong waktu. Lompatan-lompatan waktu itu Rona lukiskan dan itulah mengapa dia memberikan tajuk pameran tunggalnya Playing with Time.

Sesuai gayanya selama ini, karyanya selalu ngepop dan lucu dengan memberikan sentuhan khas di hidung yang mancung dan mata yang sayu. Karena itulah, kepintaran Rona mampu mencuri perhatian orang agar terpana melihat mata sayu atau hidung mancung yang menggemaskan. (M-4)
 

BERITA TERKAIT